Oleh: Audina Putri
(Aktivis Dakwah)
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan dari gelap menuju terang, dari lemah menuju tak terkalahkan, dari tertindas menuju kemuliaan. Itulah hijrah Rasulullah ï·º.
Peristiwa luar biasa yang mampu mengubah arah sejarah dan melahirkan peradaban megah. Namun, ketika Muharam kembali hadir, umat Islam hari ini justru menghadapi berbagai persoalan yang tidak mudah.
Di dalam negeri, sebagian besar rakyat masih bergulat dengan kesulitan hidup. Harga kebutuhan pokok terus melompat, lapangan pekerjaan semakin langka, angka kemiskinan tinggi, maraknya pelecehan seksual, meluasnya kaum pelangi (LGBT), serta meningkatnya kasus bunuh diri dan perceraian.
Generasi muda yang seharusnya menjadi harapan bangsa justru dihadapkan pada ancaman narkoba, pergaulan bebas, judi daring, perundungan di sekolah, hingga meningkatnya kasus HIV/AIDS.
Ibarat kapal besar, negeri ini memiliki banyak kelebihan. Namun, retakan dan kerusakan akibat badai dari berbagai arah justru merusak bagian paling dalam dan bawah kapal tersebut.
Sementara itu, di belahan dunia lain, Palestina masih menangis di bawah genosida yang tak henti-henti.
Anak-anak kehilangan orang tua, rumah berubah menjadi puing, dan darah kaum muslim terus mengalir tanpa henti.
Seluruh dunia menyaksikan tragedi itu secara langsung melalui layar mereka, tetapi belum ada tindakan nyata untuk menghentikannya. Kemerdekaan Palestina seolah masih jauh dari kenyataan.
Banyak penguasa Muslim hanya mengeluarkan umpatan, pernyataan, dan kecaman, tetapi tidak mampu menjadi perisai kuat untuk melindungi saudara-saudaranya yang tertindas.
Kondisi umat Islam saat ini menunjukkan bahwa umat masih jauh dari predikat _khairu ummah_ atau umat terbaik. Sebab, umat terbaik bukan hanya umat yang jumlahnya banyak, melainkan umat yang mampu memimpin, melindungi, dan memberikan solusi bagi kehidupan manusia.
Umat yang dahulu kokoh berdiri dan memimpin hampir seluruh dunia kini lebih sering menjadi penonton dan pecundang, bukan lagi pemegang panji peradaban. Umat yang dahulu disegani kini sering kali hanya menjadi objek eksploitasi.
Sebagian orang menganggap masalah ini terjadi karena kurangnya pendidikan atau lemahnya ekonomi. Padahal, akar persoalannya jauh lebih dalam. Akar masalahnya adalah umat telah lalai dan menjauh dari aturan Allah.
Sistem kehidupan yang diterapkan adalah sekuler-kapitalis, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan dan agama dari negara. Dalam sistem ini, agama ditempatkan hanya di rumah dan masjid, sementara urusan ekonomi, politik, pendidikan, dan pemerintahan diatur berdasarkan akal manusia dan kepentingan semata.
Keadilan ditimbang sesuai keuntungan, bukan kemanusiaan. Hukuman ditegakkan berdasarkan yang paling menguntungkan, bukan keadilan sosial. Aturan hidup dan aturan negara bukan lagi bersumber dari wahyu, melainkan dari ideologi dan aturan buatan manusia.
Akibatnya, kehidupan bagaikan pohon yang tercerabut dari akarnya. Ia mungkin masih tampak berdiri, tetapi perlahan akan mengering dan mati. Kapitalisme menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Yang kuat mudah menguasai, dan yang lemah tersisih. Yang memiliki modal dihormati, sementara yang miskin sering kali dihina dan dicaci.
Akibatnya, lahirlah ketimpangan sosial yang memilukan. Yang kuat menekan, yang lemah terpinggirkan. Yang kaya semakin berjaya, yang miskin semakin menderita.
Bukti nyata ada di sekitar kita, seperti kekayaan alam yang melimpah dikelola demi keuntungan segelintir orang, sementara rakyat harus membeli kebutuhan hidup dengan harga yang terus naik.
Dalam politik internasional pun demikian, kepentingan ekonomi dan kekuasaan lebih diutamakan daripada nilai kemanusiaan. Tidak mengherankan jika genosida di Palestina berlangsung lama tanpa henti.
Sekularisme juga melahirkan krisis moral yang mengkhawatirkan. Ketika agama tidak lagi menjadi standar kehidupan, manusia menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman.
Akibatnya, pergaulan bebas dianggap biasa, pornografi dianggap hiburan, kemaksiatan dipandang sebagai hak individu. Dari sinilah lahir berbagai kerusakan sosial yang merusak generasi.
Muharam seharusnya menjadi momentum hijrah bagi umat. Hijrah dari sistem yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah menuju sistem yang menjadikan syariat sebagai pedoman kehidupan.
Sebab, hanya dengan kembali kepada aturan Allah, umat dapat bangkit menjadi _khairu ummah_, umat yang memimpin dengan keadilan, melindungi yang tertindas, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Muharam juga mengajarkan bahwa perubahan tidak cukup dengan keluhan. Perubahan harus dimulai dengan hijrah pemikiran. Rasulullah tidak membangun peradaban dengan kompromi terhadap kebatilan, tetapi dengan penerapan Islam secara menyeluruh.
Ketika Islam diterapkan pada masa Khulafaur Rasyidin, masyarakat merasakan keadilan yang menenangkan dan kesejahteraan yang membahagiakan. Tidak ada kesenjangan kasta, tidak ada penguasa yang sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan tidak ada hukum yang bisa dibeli sesuka hati.
Karena itu, Muharam kali ini harus menjadi momentum kebangkitan. Momentum untuk berhijrah dari sistem yang rusak menuju sistem yang menyejahterakan. Dari aturan manusia menuju aturan Allah.
Dari kehidupan yang tidak adil menuju kehidupan yang menenteramkan. Menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam setiap lapisan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sebab, hijrah sejati bukan sekadar mengenang perjalanan Nabi, tetapi melanjutkan perjuangan beliau demi terwujudnya kemuliaan umat dan keberkahan masyarakat seluruhnya.
Wallahu a'lam bissawab.[]


0 Komentar