Bagi sebagian masyarakat Indonesia, tempe bukan sekadar makanan pelengkap. Tempe adalah lauk utama yang membantu banyak keluarga bertahan di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik. Oleh karena itu, ketika ukuran tempe diperkecil atau harganya naik, dampaknya langsung terasa sampai ke meja makan rakyat.
Para perajin tahu dan tempe saat ini memang sedang terhimpit. Harga kedelai impor terus mengalami kenaikan akibat melemahnya rupiah. Belum lagi harga plastik kemasan yang ikut naik sehingga biaya produksi semakin berat. Dalam kondisi seperti ini, banyak perajin tidak punya banyak pilihan selain mengurangi ukuran tempe, mengurangi produksi, atau menaikkan harga sedikit demi sedikit agar usaha mereka tetap berjalan.
Yang sering tidak disadari, masalah ini sebenarnya menunjukkan lemahnya kondisi pangan negeri ini. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris ternyata masih sangat bergantung pada impor kedelai. Ketika nilai tukar rupiah melemah atau harga global naik, dampaknya langsung memukul pelaku usaha kecil dan masyarakat bawah.
Artinya, kebutuhan pangan rakyat hari ini sangat mudah terguncang oleh keadaan di luar negeri. Ini tentu menjadi ironi. Negeri yang tanahnya subur justru bergantung pada impor untuk bahan pangan penting yang dikonsumsi setiap hari.
Dalam sistem ekonomi yang diterapkan hari ini, ketergantungan seperti ini dianggap hal biasa. Negara lebih sibuk menjaga stabilitas pasar dibandingkan memastikan kemandirian pangan rakyat. Akibatnya, produksi dalam negeri tidak benar-benar diperkuat. Impor dipilih karena lebih dianggap praktis dan lebih menguntungkan secara ekonomi jangka pendek.
Padahal, dampaknya sangat panjang. Ketika impor menjadi sandaran utama, rakyat kecil akan selalu berada pada posisi paling rentan. Sedikit saja rupiah melemah, harga kebutuhan langsung naik. Sedikit saja terjadi gangguan global, usaha kecil mulai goyah.
Yang paling merasakan beratnya keadaan tentu saja para pelaku usaha kecil. Mereka bukan perusahaan besar yang memiliki modal kuat. Banyak perajin tempe hidup dari produksi harian. Jika harga bahan baku naik terus, sementara daya beli masyarakat menurun, mereka terjepit dari dua arah sekaligus.
Situasi ini menunjukkan bahwa negara belum benar-benar hadir melindungi usaha rakyat. Perajin kecil dipaksa bertahan sendiri menghadapi kenaikan harga bahan baku, biaya produksi, dan tekanan pasar. Sementara itu, solusi yang diberikan sering hanya bersifat sementara.
Dalam pandangan Islam, pangan bukan sekadar komoditas bisnis, tetapi kebutuhan pokok rakyat yang wajib dijaga negara. Oleh karena itu, negara tidak boleh membiarkan kebutuhan dasar masyarakat bergantung penuh pada impor.
Islam mengatur agar negara membangun kemandirian pangan dengan serius. Lahan pertanian yang terbengkalai dihidupkan kembali, pertanian didukung, dan produksi dalam negeri diperkuat. Negara memastikan kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari kemampuannya sendiri, tidak bergantung terus pada negara lain.
Islam juga memiliki sistem mata uang yang lebih stabil karena berbasis emas dan perak. Dengan sistem seperti ini, nilai mata uang tidak mudah jatuh akibat permainan spekulasi atau tekanan pasar global. Dampaknya, harga kebutuhan rakyat lebih stabil dan tidak mudah bergejolak.
Lebih dari itu, politik ekonomi Islam dibangun untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan setiap individu rakyat. Negara hadir sebagai pengurus, bukan sekedar pengawas pasar. Oleh karena itu, usaha kecil seperti perajin tahu dan tempe tidak akan dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi.
Apa yang terjadi hari ini seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan pangan tidak bisa dianggap sepele. Tempe yang makin kecil sebenarnya sedang menampilkan masalah yang jauh lebih besar: negeri ini belum benar-benar mandiri dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri.
Dan selama kemandirian impor terus dipertahankan, rakyat kecil akan selalu menjadi pihak pertama yang merasakan sesaknya hidup ketika keadaan ekonomi mulai terguncang.[]


0 Komentar