Subscribe Us

PESTA BABI : TERTAWA DITENGAH JERITAN BANGSA

Oleh Teti Ummu Alif
(Pemerhati Masalah Publik) 

Vivisualiterasi.com-Dilaporkan dari KendariInfo.com, ratusan mahasiswa dan masyarakat umum memadati Aula Lantai 4 Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari dalam agenda nonton bareng dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, pada hari Sabtu (16/5/2026)

Film tersebut mengangkat isu oligarki, investasi, serta aktivitas pertambangan di Indonesia. Alhasil, diskusi berlangsung panas setelah sejumlah pembicara menyampaikan dampak investasi terhadap ruang kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah kaya sumber daya alam seperti Sulawesi Tenggara (Sultra).

Film dokumenter ini mengangkat isu perampasan ruang hidup masyarakat adat, kerusakan lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam atas nama pembangunan nasional. Film tersebut juga menjadi sorotan nasional karena sejumlah agenda pemutaran di berbagai daerah sebelumnya disebut mengalami intimidasi hingga pembubaran.

Ya, Pesta Babi tidak menawarkan pengungsi. Ia justru menarikmu masuk ke ruang yang paling bising dan paling sempit dari kenyataan kita sendiri. Di atas panggung absurditas itu, tawa penonton pecah bukan karena leluconnya lucu, tapi karena kita mengenali diri sendiri dibalik topeng karakter-karakternya. Di akhir film ini bekerja: menjadikan tawa sebagai perisai suatu saat sebelum memimpikan bangsa yang selama ini diredam akhirnya terdengar lagi. Lucu, ya. Tapi tawa itu terasa ganjil, karena ia tumbuh di atas luka yang belum sembuh.

Absurditas Sebagai Cermin, Bukan Sekadar Hiburan  

Pesta Babi sengaja memilih jalur absurd untuk menyampaikan kritiknya. Adegan yang melampaui batas logika, dialog yang kasar, dan kekerasan yang disajikan tanpa sensor bukan sekadar gimmick untuk menarik perhatian. Itu semua adalah cermin yang sengaja dibikin pecah. Ketika karakter-karakter di layar menampilkan konyol sekaligus kejam, penonton dipaksa melihat bahwa absurditas itu tidak jauh dari kenyataan.

Korupsi yang dibungkus ritual, kekerasan yang diperbolehkan atas nama adat, dan kemunafikan yang disembunyikan dibalik senyuman ramah, semua ada di sekitar kita. Film ini tidak menciptakan kekacauan baru, ia hanya menyorot kekacauan lama yang sudah kita anggap normal. Disitulah kekuatan satirnya bekerja, membuat yang biasa jadi ganjil, sehingga kita tidak bisa lagi membayangkan-pura tidak melihat.

Lebih jauh lagi, absurditas itu memaksa kita berhenti pada jarak aman. Kita tidak bisa menonton sebagai penonton pasif yang hanya mencari hiburan. Kita terpaksa terlibat, kesal, dan akhirnya bertanya; seberapa banyak kebingungan ini yang sebenarnya kita mendukung dengan diam?

Tawa yang Muncul dari Rasa Ngilu
 
Yang membuat Pesta Babi unik adalah kemampuannya memaksa penonton tertawa di saat yang salah. Leluconnya tidak lucu dalam pemahaman konvensional, tapi ia memantik tawa karena kita mengenali kebenaran yang menyakitkan dibaliknya. Ini bukan tawa lega, melainkan tawa ngilu yang merupakan mekanisme perlindungan saat realitas terlalu telanjang untuk menghadap dengan serius. 

Di masyarakat yang terbiasa diamkan masalah dengan guyonan, film ini memutar balik fungsinya. Tawa yang keluar dari bioskop bukan tanda kita baik-baik saja, tapi bukti bahwa kita sudah terlalu lama mempelajari asal mula luka sendiri agar tidak harus mengakuinya. Dan justru di situlah film ini jujur, ia tidak membiarkan kita pulang dengan rasa nyaman, karena tawa yang lahir di sini selalu meninggalkan rasa ganjil yang mengendap.

Jeritan yang Sengaja Dibungkam, Kini Dibuka Layar
 
Diluar bisingnya komedi dan darah, "Pesta Babi" bekerja sebagai pengungkit bagi hal-hal yang selama ini kita diamkan. Korupsi, kekerasan atas nama agama, rasisme, dan hipokrisi sosial tidak disebut secara langsung, tapi dirasakan di setiap adegan yang berantakan. Film ini menjadi ruang langka dimana menceritakan bangsa yang biasanya diredam oleh ketakutan dan norma kepalsuan akhirnya punya tempat untuk keluar meski caranya brutal dan tidak sopan.

Masalahnya, dia tidak muncul di ruang hampa. Ia lahir dari sistem yang memang dirancang untuk membungkam. Inilah konsekuensinya tinggal di negara yang mengendalikan korporasi dan oligarki. Dimana hukum menjadi komoditas, moral menjadi negosiasi, dan suara rakyat hanya terdengar ketika dibungkus dalam tawa absurd agar tidak dianggap sebagai ancaman. "Pesta Babi" menyodorkan cermin itu tanpa kompromi. 

Jika kita masih punya keberanian untuk menatap, maka jelas satu hal, bangsa ini tidak membutuhkan perbaikan citra, tapi perbaikan sistem kehidupan. Sistem yang tidak lagi berfungsi untuk segelintir pemilik meja, melainkan untuk mereka selama ini hanya dijadikan bahan santapan di atasnya. Wallahu a'lam.[]

Posting Komentar

0 Komentar