Subscribe Us

KERETA KENCANA KOSONG: SEBUAH PENYIMPANGAN?


Oleh Tesya Ridal, S.T. 
(Ibu Rumah Tangga)

Vivisualiterasi.com - "Air tenang yang menghanyutkan", peribahasa ini yang bisa menggambarkan kondisi akidah umat muslim saat ini. Masuk pelan-pelan atas nama budaya, tetapi pelan-pelan merubah pandangan dan keyakinan.  

Dikutip dari iNEWSKarawang.id (09/05/2026), Kemeriahan Kirab Mahkota Binokasih di pusat Kota Karawang, Sabtu (9/5) malam, mendadak diselimuti nuansa misteri. Di tengah megahnya iring-iringan budaya Sunda yang dipimpin Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Karawang Aep Syaepuloh, perhatian ribuan warga justru tertuju pada sebuah kereta kencana putih bertabur bunga melati yang melaju tanpa penumpang. 

Kereta kencana yang bertabur melati dalam Kirab Budaya tersebut masuk dalam katagori syubhat ghuluw atau sikap berlebih-lebihan dalam memperlakukan sebuah benda yang mana hal ini akan masuk ke dalam jurang khurafat, sehingga bisa menggiring umat kepada akidah yang menyimpang. Bukan hanya itu, Kirab Budaya semacam ini tidak pernah dicontohkan Nabi Shalallahu 'alaihi wassallam. Maka dapat disimpulkan bahwa tradisi ini merupakan suatu kegiatan yang menyerupai suatu kaum di luar ajaran Islam.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

Ketika suatu amalan sudah menyimpang dari akidah Islam, maka perbuatan di dalamnya tidak akan jauh dari berbagai macam kemudharatan. Salah satunya acara budaya yang berlebih-lebihan akan membuat umat bahagia sesaat namun lupa akan masalah hidup yang sebenarnya.

Di sisi lain, acara Kirab Budaya yang mewah akan berdampak kepada anggaran daerah yang tidak tepat sasaran, seremoni semata tak akan mampu menyelesaikan krisis yang dihadapi oleh negara ini seperti kemiskinan, kelaparan, kesehatan, stunting dan sebagainya. 

Inilah potret sistem yang tidak berlandaskan akidah Islam. Bukan hanya rusak pola pikirnya,tetapi juga perbuatan yang sia-sia dengan menghambur-hamburkan uang untuk acara yang banyak kemudharatannya.

Kondisi rusak seperti ini akan ditutup rapat di dalam suatu sistem yang berlandaskan kepada akidah dan syariat Islam. Kembalinya umat kepada hukum-hukum Allah dalam hal akidah, pergaulan, ekonomi, politik, sosial bahkan budaya akan membawa umat kepada kebaikan bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat, in syaa Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar