Oleh Sinta Lestari
(Pegiat Literasi dan Aktivis Dakwah)
Vivisualiterasi.com - Hari raya Idul Fitri biasanya identik dengan suasana meriah. Namun berbeda di Gaza, suasana duka menyelimuti hari raya Iedul Fitri di sana. Seharusnya mereka berkumpul bersama keluarga, namun rakyat Gaza masih diselimuti duka karena kehilangan keluarga dan sanak saudara, tak hanya itu mereka merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan rumah-rumah, tenda-tenda darurat dan gedung-gedung yang berantakan akibat operasi militer penjajah.
Blokade Israel atas Gaza makin menambah penderitaan karena sulitnya pasokan makanan dan obat-obatan masuk ke jalur Gaza untuk memenuhi kebutuhan logistiknya. Fenomena ini merupakan bukti genosida yang terus menerus menghiasi layar kehidupan rakyat Gaza. Seolah-olah duka dan nestapa tak berujung, meski seluruh dunia sibuk dengan manuver perdamaian dengan BoP yang dikemas indah bak agen kemerdekaan, padahal itu hanya tipuan yang keluar dari mulut seorang penjajah. Meski gencatan senjata diumumkan, upaya perdamaian terus dilakukan, kecaman demi kecaman menghiasi panggung politik internasional, bahkan meski rudal Iran beterbangan membungkam tingkah penjajah, tak sedikitpun dapat menghentikan penderitaan rakyat Gaza.
"Ini adalah Ied yang penuh kesedihan. Kami belum pernah melihat Ied seperti ini. Ada yang kehilangan ayah, anak, ibu, atau orang-orang terdekat mereka". Ungkap seorang ibu rakyat Gaza dengan pebuh kesedihan. (KompasTV, 21/03/2026)
Tak hanya itu, untuk pertama kalinya dalam berapa dekade, Al Aqsa tidak menggelar shalat Ied di hari raya umat Islam yang begitu dinantikan. Bahkan akses ke masjid Al Aqsa ditutup oleh Israel, sehingga rakyat Palestina terpaksa melakukan shalat Ied di jalan-jalan. Pada akhirnya mereka menggelar shalat Ied di luar tembok kota tua Yerusalem. Di sisi lain perbatasan dijaga ketat oleh otoritas kepolisian Israel yang berdiri di sekitar lokasi. Tidak hanya al Aqsa, beberapa situs suci di kota tua pun ditutup dengan alasan keamanan. (Liputan6_News, 21/03/2026)
Meski dengan keterbatasan namun rakyat Gaza tetap melaksanakan shalat Ied di tengah ketegangan. Hari raya yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan, berubah menjadi susana haru penuh goncangan.
Derita Gaza Yang Makin Terlupakan
Sejak 23 Oktober 2023, Gaza mengalami perubahan besar. Agresi Militer yang terus menerus dilakukan Israel ke jalur Gaza telah mengubah wajah Gaza secara total. Meski begitu rakyat Gaza tetap melaksanakan shalat Ied tiap tahunnya di tengah reruntuhan bangunan, dengan isakan tangis dan deraian air mata tak tertahan yang memecah hening kesunyian. Satu dunia bungkam padahal jelas mereka menyaksikan genosida, seolah jerit tangis warga Gaza tiada yang mendengar. Terlebih setelah pecah perang antara Iran dan Israel juga Amerika, berita Gaza seolah tenggelam dan terlupa, semua mata tertuju pada perang Israel-Amerika vs Iran. Ironisnya, negara-negara Arab Teluk justru bersekutu dengan negara kafir dalam memerangi Iran dan melupakan derita Gaza.
Suasana Idul Fitri rakyat Gaza masih dalam kondisi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka harus merasakan penderitaan di saat umat lain bergembira berhari raya. Kondisi mereka mengenaskan. Seharusnya umat Islam itu bagaikan satu tubuh, jika penderitaan dirasakan rakyat Gaza maka seluruh umat muslim sedunia merasakan kesedihan yang sama. Bahkan di tiap-tiap khutbah shalat Ied seorang khatib seharusnya menyampaikan kondisi rakyat Gaza yang masih tetap mengalami genosida.
Perdamaian Hanya Ilusi Kemerdekaan, Palestina Bukan Menjadi Prioritas Utama
Nasib Gaza terus mengkhawatirkan. Perdamaian yang dibungkus indah dengan narasi basi mengatasnamakan rekonstruksi maupun stabilisasi telah menyihir para pemimpin di negeri muslim. Namun sebenarnya kemerdekaan Palestina tak pernah menjadi prioritas utama bagi AS dan Israel. Dua negara tersebut hanya fokus dengan kepentingannya agar hegemoni kekuasaannya tetap berdiri kokoh di atas dunia. Hal ini sungguh nyata bagi mereka yang sadar akan bahayanya ideologi Barat untuk menguasai dunia. Kemerdekaan seperti apa yang akan direalisasikan oleh kamu penjajah atas tanah Palestina? Padahal jelas faktanya, derita Gaza tak pernah mereda. Justru ibarat luka, luka Gaza makin menganga karena terlalu lama dibiarkan tanpa pengobatan serius, tanpa perhatian khusus.
Ukuwah Islamiyah Menjadi Ikatan Kuat Umat Islam
Dalam Islam jelas, umat Islam harus saling menyayangi terhadap saudara seiman dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang memusuhi Islam.
Allah berfirman, "Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang memusuhi Islam), tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al Fath : 29)
Umat Islam harus menyadari bahwa ikatan terkuat umat ini adalah ikatan akidah dalam ukhuwah Islamiyah. Bukan ikatan nasionalisme atau ikatan ashobiyah lainnya karena ikatan-ikatan tersebut tidak berdiri di atas fondasi yang benar. Ikatan tersebut adalah ikatan lemah yang hanya berdiri karena asas manfaat, yang menyala hanya saat ada rangsangan semata. Di saat persatuan hakiki umat terwujud maka umat ini akan menjadi umat yang kuat. Mereka berdiri di atas akidah yang benar, sehingga mereka ada dalam satu perasan, satu aturan dan satu pemikiran yang sama. Kemudian mereka menentukan solusi kemerdekaan Palestina di atas satu suara, satu komando dan solusi yang sama yang ditawarkan Islam.
Disaat umat Islam di belahan bumi lain terjajah, tertindas, tergenosida, solusi yang diambil bukan hanya dengan jalur diplomasi atau kecaman atau perdamaian semu. Melainkan Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin yang beriman untuk berjihad berperang melawan kedzaliman.
Allah berfirman, " Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (Q.S. At Taubah: 123)
Namun harus kita pahami bahwa perintah jihad tidak akan sempurna selama negeri-negeri muslim masih berkiblat ke 'Barat', masih ridha dan mengadopsi sistem aturan mereka. Perintah jihad akan sempurna dan terlaksana saat umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafah 'ala minhajinnubuwah. Wallahu a'lam bishawwab.[] ZDS


0 Komentar