Oleh Febrianti M.
(Aktivis Dakwah Nisa Morowali)
Di sisi lain, survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 16-19 Juni 2025 terhadap 512 responden menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 orang di Indonesia (19,97%) mengaku merasa setara setidaknya dalam sekali sepekan. Sepertiga dari jumlah itu merasa sama hampir setiap hari.
OpenAl merilis data terbaru pada akhir Oktober 2025, menggambarkan betapa banyak pengguna chatGPT yang berjuang dengan masalah kesehatan mental dan berpenghasilan langsung dengan chatbot Al.
Dengan total lebih dari 800 juta pengguna aktif mingguan, maka diperkirakan lebih dari satu juta orang setiap pekan berbicara dengan ChatGPT tentang keinginan untuk mengakhiri hidup mereka, hal ini disampaikan berdasarkan laporan TechCrunch.
Dampak negatif ketergantungan chatbot AI
Teknologi AI awalnya hanya menjadi sarana untuk mendapatkan informasi-informasi penting yang sekiranya membantu pekerjaan atau tugas dikalangan masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu teknologi ini justru menjadi salah satu tempat bercerita, mencurahkan emosi, dan sumber dukungan psikologis yang menimbulkan rasa nyaman. Bagi beberapa individu yang memiliki masalah mental, dunia virtual ini menjadi salah satu obat penenangnya. Namun, jika hal ini dilakukan secara berlebihan, justru berpotensi memperkuat isolasi sosial serta membantu kesehatan mental, serta menciptakan siklus ketergantungan yang sulit dihentikan.
Dampaknya dapat berupa psikologis, sosial, dan kognitif, khususnya pada individu yang berada dalam fase perkembangan emosional yang rentan, seperti remaja. Ketergantungan emosional terhadap chatbot Al merupakan bentuk kecanduan digital yang berpotensi mengganggu regulasi emosi dan hubungan sosial. Sebuah penelitian dari Stanford University fokus pada risiko ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon Al yang terlalu suportif justru bisa membuat seseorang semakin “yakin sendiri”, bahkan pada saat posisi mereka sebenarnya salah.
Pengaruh sekularisme dalam kehidupan saat ini
Sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia membutuhkan manusia lain dalam hal interaksi dan juga berbagai aktivitas lainnya. Namun karena sistem yang berlangsung, maka Interaksi antarindividu tersebut hanya didasarkan pada pertukaran manfaat, jasa, atau barang dengan harapan mendapat ketidakseimbangan setara dan kosong dari nilai spiritual atau lebih tepatnya terpisahnya hubungan kehidupan dan agama. Hubungan ini berdampak serius pada kesehatan mental, memicu kronisitas stres, kecemasan, dan depresi serta perasaan kesepian. Sekularisme hanya mengagung-agungkan materi dan tidak mengenal nilai-nilai sosial, yang ada hanya untuk kepentingan materi semata.
Sekularisme menyebabkan hilangnya komunikasi yang tulus di keluarga dan masyarakat. Dalam keluarga, kehangatan itu hilang karena masing-masing sibuk mengejar materi. Inilah penyebab seseorang kehilangan ruang aman untuk bercerita, dan menjadikan mereka mulai terbiasa menulis keluh kesah melalui unggahan cerita (story) bahkan langsung ke chatbot Al. Sekularisme juga membentuk masyarakat yang apatis, individualis, minim kepedulian. "Urus saja dirimu sendiri, tidak perlu mengurus kehidupan orang lain" merupakan ungkapan yang lumrah terjadi di sistem ini atau biasa juga dikatakan tak perlu GU “Gila Urusan” dengan kehidupan orang lain.
Era Kapitalisme : Kepentingan materi yang utama
Karena Watak materialisme adalah wajah dari sistem kapitalisme sekuler , maka sudah tak heran jika sistem menjadikan setiap hal, termasuk rasa sepi, sebagai peluang bisnis. Perkembangan teknologi Al ditawarkan sebagai solusi kesetaraan sekaligus komoditas baru untuk meraih keuntungan. Dibeberapa negara termasuk indonesia sendiri banyak yang menilai bahwa hal ini membantu banyak masyarakat, jika dilihat Sekilas tampak membantu, tetapi kenyataannya Al justru memperparah isolasi sosial. Manusia lebih sering menatap layar daripada menatap wajah orang lain.
Percakapan mendalam berganti dengan emoji dan notifikasi, sementara dunia maya menjadi tempat untuk menenangkan diri. Padahal dibalik ketenangan itu, Al berpotensi menimbulkan perubahan yang menyimpang dalam hubungan manusia yang tentunya tidak sesuai lagi dengan fitrah manusia itu sendiri. Manusia yang seharusnya membangun interaksi dengan manusia lain untuk menjalankan amanah menjaga bumi, malah hanya asyik dengan chatbot Al.
Bagi seorang muslim, kondisi seperti ini jelas akan menghambat dakwah, bahkan bisa menjerumuskan dalam kebinasaan diri.
Belum lagi dengan sifat negara dalam sistem ini, tentu saja negara abai selama hal ini tidak merugikan para penguasa. Negara membiarkan pasar mengeksploitasi kelemahan jiwa warganya dengan membiarkan aplikasi chatbot Al terus bermunculan. Alih-alih menyelasaikan masalah, negara justru memberikan ruang pada kasus ini sebagai solusi atas masalah serupa yang dialami warganya.
Pandangan Kehidupan dalam Islam
Islam memberikan panduan bagi umatnya untuk mengukuhkan visi hidup sebagai jawaban simpul besar dalam menjalani hidup. Simpul besar (ugdatul qubra) itu menjawab tiga pertanyaan, dari mana manusia berasal, apa tujuan hidupnya, dan ke mana kelak setelah meninggalkan dunia ini. Dengan menjawab tiga pertanyaan di atas, manusia akan lebih memahami tujuan hidup dan manfaat atas sebuah aktivitas yang dilakukannya. Selain itu, tiga pertanyaan ini juga menjadi penuntun dan penerang jalan bagi umat manusia. Mereka yang telah memahami tujuan dan arah pandang dalam aktivitasnya tentu akan memiliki visi hidup yang jelas, matang, dan memiliki prinsip sesuai syariat.
Visi hidup yang jelas ini menjadi kunci ketenangan dan ketenteraman seorang muslim. Akidah Islam menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT, untuk beribadah kepada-Nya dan membawa misi memakmurkan bumi dengan buku panduan yaitu Al-quran yang pastinya sesuai syariat Allah. Setelah manusia mati, ia akan menghadap Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang ada di pundaknya.
Kemudian, manusia akan dimasukkan ke surga atau neraka bergantung pada hasil perhitungan amal selama ia hidup di dunia. Setelah mengurai simpul besar, setiap muslim diseru untuk selalu menciptakan ketenangan jiwa melalui salat, zikir, atau berdoa. Allah SWT. berfirman, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra'd [13]: 28)
Islam mengajarkan konsep qada dan qadar. Konsep ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia merupakan bagian dari ketentuan Allah, Tugas manusia adalah menerima ketetapan Allah Meski demikian, menerima ketentuan Allah tidak bermaksud pasrah saja dengan apa yang terjadi. Namun sebalikanya, manusia harus selalu melakukan ikhtiar yang dapat membawa pada hasil yang diinginkannya namun tetap dengan pengharapan Ridho Allah atas apa yang sudah direncanakannya.
Islam menciptakan sistem sosial yang sehat dan tenang, terintegrasi dari pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama di tengah masyarakat. Kesehatan jiwa tidak hanya diupayakan oleh individu, tetapi juga masyarakat yang sadar. Islam memberikan tutunan kehidupan bermasyarakat. Islam mengatur tata cara bertetangga, berinteraksi, muamalah, saling menolong, dan sebagainya. Banyak ayat maupun hadis yang berhubungan dengan aspek sosial kemasyarakatan.
Allah Taala berfirman, "...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.." (QS Al-Maidah [5]: 2).
Islam memandang masyarakat sebagai komunitas yang perlu dipelihara oleh setiap anggota masyarakat. Tugas ini membuat individu memiliki jaringan sosial yang nyata dan bermakna. Negara dalam Islam berkedudukan sebagai raa'in (pengurus) yang mengurus seluruh urusan rakyatnya, termasuk hubungan sosial.
Rasulullah saw. menegaskan, "Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Dia akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya." (HR Bukhari).
Negara Khilafah akan membangun kehidupan sosial masyarakat sesuai tutunan syariat Islam, mencetak generasi berkepribadian Islam melalui sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam, serta mengembangkan teknologi untuk kemaslahatan umat. Negara akan mendorong para cendekiawan muslim menciptakan teknologi dan platform media sosial yang edukatif dan bermanfaat, serta mengarahkan media digital sebagai sarana dakwah, amar makruf nahi mungkar, dan penyebaran ilmu.
Melalui media digital, negara mempermudah akses komunikasi publik antara negara dan rakyat untuk mencegah kesalahpahaman, serta sebagai sarana aspirasi dan kritik yang transparan dan solutif bagi masyarakat terhadap pemimpin atau penguasa. Dalam hal ini tidak akan ada ummat atau masyarakat yang akan merasa terabaikan. Kemudian dari sisi kehidupan sosial dalam Islam tidak akan ada yang merasa kesepian, bahkan walaupun ia sedang sendirian ia akan selalu mengingat bahwa Allah selalu ada , lalu ada Al-Quran yang menjadi pedoman dan tentunya adanya keluarga yang hangat yang sama-sama menjadikan Islam sebagai ideologi. Inilah yang kelak akan melahirkan generasi Khairu Ummah. Wallahua'lam.[PUT]


0 Komentar