Oleh Bunda Suci
(Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Katanya, gencatan senjata dan BoP ditawarkan sebagai solusi perdamaian Gaza, tetapi pada kenyataannya pelanggaran gencatan senjata berulang dilakukan oleh Zionis Israel. Militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan jalur Gaza Palestina pada Rabu (04/02). Imbas serangan Israel tersebut, diberitakan 23 orang tewas termasuk anak-anak. Kemudian serangan udara Israel menghantam sebuah kamp di kawasan Khan Younis gaza, dilaporkan sedikitnya 21 orang tewas termasuk 6 anak dan seorang bayi berusia 5 bulan. Meski menyetujui gencatan senjata dan bergabung dalam Board of Peace (BoP), namun faktanya Israel masih tetap melakukan serangan ke Gaza Palestina. Dilansir dari Jakarta. CNN Indonesia, Kamis 5 Februari 2026.
Gaza Palestina kembali diserang saat gencatan senjata Israel, setelah muncul sebuah gagasan bernama Board of Peace (BOP). BoP atau Dewan Perdamaian dipimpin oleh gembong penjajah yakni Amerika Serikat (AS) di bawah pimpinan Donald Trump, sebuah perjanjian multilateral yang dia gadang-gadang dapat mendorong perdamaian dunia. Memang terdengar indah namanya "Peace" (perdamaian), akan tetapi sejarah mengajari kita bahwa istilah perdamaian tidak selalu menghadirkan keadilan. Dunia terlalu naif percaya dengan janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS, padahal yang terjadi justru Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian.
Perlu kita pahami bahwa BoP adalah penjajahan modern atau penjajahan gaya baru kepada Gaza Palestina. Mengapa kita menolak atau tidak mendukung keputusan Bapak Presiden kita di Board of Peace? Karena konsep perdamaian yang ditawarkan kepada kita bukan lahir dari luka bangsa-bangsa yang tertindas tetapi dari meja elite global. Karena terbukti setelah menandatangani kontrak, Israel kembali menyerang Gaza terusmenerus. Gagasan ini murni inisiatif netral. Dia lahir dari tradisi politik barat. Forum ini sering dijadikan topeng untuk mengamankan ambisi mereka sebagai para penguasa.
Kita sering dibohongi oleh mereka yang mengatasnamakan perdamaian, demokrasi dan kemanusiaan. Padahal mereka melakukan sejumlah invasi, kudeta dan penghancuran negeri-negeri muslim seperti Afganistan, Irak, Libya, Suriah, Sudan dan banyak negeri-negeri muslim lainya yang menjadi korban. Sedangkan penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel dengan alasan menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang makin meluas. Bahkan mereka rela bergabung dalam BoP. Inilah ironi terbesar bagi dunia Islam, kaum penjajah justru tampil sebagai juru damai bagi umat islam. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan di dalam Al-Qur'an, surah an-nisa ayat 141 yang artinya:
"Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk menguasai kaum Muslim".
Maka dari itu kita harus sadar bahwa BoP (Dewan perdamaian) adalah penjajahan gaya baru yang dirancang oleh AS-Israel untuk menghancurkan Gaza dan menguasai tanah Palestina. Padahal sudah sangat terang benderang AS lah pendukung utama Zionis Yahudi selama puluhan tahun. AS pula yang menyokong utama persenjataan Zionis Yahudi untuk melakukan genosida atas Palestina. Sedangkan Palestina butuh pembebasan bukan kebohongan mengatasnamakan perdamaian apalagi Palestina tidak dilibatkan sama sekali, sungguh merupakan sebuah kezaliman.
Lalu Bagaimana dengan Umat islam?
Umat Islam harus tegas, bahwa gencatan senjata dan perdamaian itu adalah bentuk penjajahan baru yang harus kita lawan. Namun kita sebagai kaum muslim harus bersatu. Allah SWT dengan tegas memerintahkan kepada kaum muslim untuk bersatu seperti yang terkandung dalam Al Qur'an surah Ali Imran ayat 103 yang artinya:
"Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai berai".
Berdasarkan ayat ini jelas kaum muslim lebih layak bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah daripada bersatu di bawah penjahat kafir internasional AS dalam Board of peace.
Khilafah adalah solusi ideologis dan sistemik untuk menghadapi dan melawan kezaliman global AS. Di dalam Khilafah, kaum yang tertindas termasuk rakyat Palestina tidak diperlakukan sebagai isu diplomatik semata, tetapi sebagai amanah yang wajib dibela secara politik, hukum dan bahkan militer (jihad). Khilafah berfungsi bukan hanya sebagai simbol persatuan umat tetapi sebagai instrumen nyata untuk menghentikan kejahatan, menantang hegemoni zalim dan menegakkan keadilan dalam tatanan dunia yang selama ini dikuasai oleh kekuasaan jahat AS.
Khilafah juga mampu memelihara kemuliaan islam serta melindungi kehormatan dan darah kaum muslim.
Oleh karena itu, wahai kaum muslim marilah kita bersatu, memperjuangkan kembali tegaknya khilafah, karena dengan khilafah kita akan menghentikan kecongkakan dan kejahatan AS serta Zionis Yahudi.
Wallahu a'lam bishawab.[]ZDS


0 Komentar