Subscribe Us

MENGAKHIRI DERITA PILU PEREMPUAN DAN ANAK-ANAK DI GAZA



Oleh Hanum Hanindita, S.Si. 
(Penulis Artikel Islami)


Vivisualiterasi.com - Derita perempuan dan anak-anak di Gaza kembali mengguncang nurani dunia. Di tengah klaim gencatan senjata, serangan demi serangan terus terjadi. Korban berjatuhan dan sebagian besar adalah warga sipil yang tidak memiliki daya untuk melawan. Perempuan kehilangan anaknya, anak-anak kehilangan orang tuanya, dan sebagian keluarga bahkan kehilangan seluruh jejak orang-orang tercinta. Rumah-rumah yang dahulu menjadi tempat berlindung berubah menjadi puing-puing. Sekolah dan rumah sakit yang seharusnya menjadi zona aman pun tidak luput dari ancaman.

Menurut laporan investigasi Al Jazeera berjudul “The Rest of the Story”, setidaknya terdapat 2.842 warga Palestina yang hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Ribuan warga ini disebut merupakan korban serangan bom termal dan termobarik, senjata yang dapat melenyapkan target tanpa meninggalkan jejak selain percikan darah atau potongan kecil tubuh (cnnindonesia.com, 14-02-26). Fakta ini bukan sekadar angka statistik, melainkan kejahatan nyata dan memilukan. Di balik setiap angka ada nama, ada keluarga, dan ada harapan yang terenggut paksa.

BUTUH LANGKAH TEGAS

Serangan yang menyasar wilayah padat penduduk memperlihatkan bahwa warga sipil menjadi korban utama. Dunia mengetahui bahwa hukum humaniter internasional melarang penyerangan terhadap nonkombatan. Namun, hingga kini belum ada langkah tegas yang benar-benar mampu menghentikan penderitaan tersebut. Kecaman demi kecaman terasa hampa ketika bom masih terus dijatuhkan. Resolusi dan pernyataan sikap sering kali berakhir tanpa implementasi nyata di lapangan.

Situasi ini menuntut sikap yang lebih dari sekadar simpati. Umat Islam di seluruh dunia perlu menunjukkan solidaritas nyata melalui doa, bantuan kemanusiaan, edukasi publik, dan tekanan diplomatik yang sah sesuai hukum internasional. Dukungan terhadap lembaga kemanusiaan, penggalangan dana, serta penyebaran informasi yang akurat menjadi bagian dari kontribusi yang dapat dilakukan. Persatuan suara dan kepedulian global sangat dibutuhkan agar tragedi ini tidak terus berulang.

Di sisi lain, masyarakat dunia juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menutup mata. Nilai-nilai kemanusiaan yang sering digaungkan harus dibuktikan dengan keberpihakan pada keadilan. Perdamaian tidak akan pernah terwujud jika standar ganda terus dipelihara. Setiap nyawa manusia memiliki nilai yang sama dan layak dilindungi tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun kebangsaan.

URGENSI KEPEMIMPINAN ISLAM

Lebih jauh, tragedi yang terus berulang di Palestina menyingkap satu kenyataan pahit: umat Islam hari ini hidup tanpa perisai kepemimpinan yang menyatukan dan melindungi mereka. Dalam pandangan Islam, kepemimpinan bukan sekadar simbol politik, melainkan institusi penjaga agama dan pelindung jiwa kaum muslimin. Ketika umat tercerai-berai dalam batas-batas nasionalisme sempit, kekuatan besar yang seharusnya mampu membela kaum tertindas justru melemah.

Ketiadaan persatuan politik menyebabkan respons terhadap tragedi kemanusiaan sering kali tidak terkoordinasi dan tidak memiliki daya tekan yang kuat. Padahal, umat Islam memiliki potensi besar dari sisi jumlah, sumber daya alam, maupun posisi geopolitik. Jika potensi ini terhimpun dalam satu visi dan arah perjuangan yang sama, tentu akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan global.

Karena itu, kebutuhan akan kepemimpinan Islam yang adil, berdaulat, dan berlandaskan syariat menjadi semakin mendesak agar potensi umat yang besar dapat terhimpun dalam satu barisan yang kokoh untuk membela kehormatan serta nyawa kaum muslimin di mana pun mereka berada. Kepemimpinan tersebut diharapkan tidak hanya reaktif terhadap krisis, tetapi juga memiliki strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas, kedaulatan, dan keamanan umat.

ISLAM MENGAKHIRI DERITA DI GAZA

Perempuan dan anak-anak Palestina berhak hidup aman sebagaimana manusia lainnya. Namun, dalam pandangan Islam, keamanan dan kemuliaan itu tidak akan tegak hanya dengan seruan kemanusiaan yang bersifat universal dan normatif. Islam telah menetapkan bahwa menjaga jiwa (hifzun nafs) dan kehormatan kaum muslimin adalah kewajiban besar yang ditopang oleh penerapan syariat secara menyeluruh dalam kehidupan.

Selama umat Islam hidup dalam sistem yang tidak menjadikan wahyu sebagai landasan politik dan kenegaraan, selama itu pula perlindungan hakiki akan sulit terwujud. Karena itu, solusi mendasar atas tragedi yang terus berulang ini adalah kembalinya umat kepada Islam secara kaffah, bukan hanya dalam ranah ibadah personal, tetapi juga dalam tata kelola pemerintahan, hukum, dan hubungan internasional. Allah Swt. berfirman yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan …”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Tegaknya kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat secara menyeluruh akan menjadi perisai bagi kaum muslimin, menyatukan potensi umat, serta menghadirkan kekuatan politik yang mandiri dan berdaulat. Dengan demikian, perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak bukan sekadar slogan moral, melainkan kewajiban negara yang dijalankan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Allah Swt. berfirman yang artinya,

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka …”
(QS. Al-Ma’idah: 49)

SAATNYA UMAT BANGKIT

Inilah jalan perubahan yang bersifat mendasar dan berjangka panjang agar air mata para ibu tidak lagi jatuh sia-sia, agar jerit anak-anak tidak lagi tenggelam oleh dentuman senjata, dan agar penderitaan serupa tidak terus terulang di negeri-negeri kaum muslimin. Perubahan sejati bukan sekadar reaksi sesaat atas tragedi, melainkan kebangkitan kesadaran yang lahir dari iman, tumbuh dari kepedulian, dan bergerak dalam barisan persatuan.

Marilah kita berjuang bersama menumbuhkan kesadaran jemaah umat bahwa luka Gaza adalah luka kita, bahwa derita mereka adalah panggilan bagi hati yang masih hidup. Saatnya umat bangkit, merapatkan barisan, menguatkan ukhuwah, dan meneguhkan ketaatan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan. Dengan persatuan yang tulus dan langkah yang terarah, kita menjemput pertolongan-Nya, pertolongan yang akan mengangkat duka, menghapus derita, dan menghadirkan kembali harapan bagi saudara-saudara kita di Gaza. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari generasi yang tidak hanya menangisi nestapa, tetapi turut menghadirkan perubahan. Wallahu a‘lam bishawab.(Dft)

Posting Komentar

0 Komentar