(Aktivis Dakwah Nisa Morowali)
Pembukaan jalur perlintasan utama oleh pihak Israel yang mengizinkan warga untuk melintas namun dibatasi tak mengubah situasi menjadi lebih baik, sebab bantuan kemanusiaan masih tertahan dan akses masuknya pasokan bantuan kemanusiaan diblokir oleh pihak Israel yang berada di wilayah Mesir dan Yordania. Sedangkan pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa bencana kemanusiaan yang semakin parah hanya bisa diakhiri dengan membuka jalur gaza tanpa adanya pembatasan. Sehingga bantuan dapat didistribusikan hingga menyebar keseluruh wilayah Gaza, Palestina. (Antara News Gorontalo, 7-2-2026)
Bagi warga Gaza, Rafah adalah perlintasan yang sangat penting. Sebab merupakan salah satu jalur utama yang dilalui penduduk saat meninggalkan area yang dikenal dengan wilyah kantong. Namun setelah pecahnya perang militer, Israel mengambil alih kendali operasional di pos perlintasan wilayah tersebut. Sebelumnya pintu utama perlintasan ini sempat tak beroperasi selama berbulan-bulan lamanya. Namun jalur vital ini kembali dibuka dengan penjagaan yang super ketat oleh pihak Zionis Israel. Sayangnya saat ini hanya individu saja yang dapat melakukan perlintasan sedangkan bantuan kemanusiaan belum mendapatkan izin untuk melintas. Hal ini kian menegaskan bahwa nyawa tak lebih penting dari sebuah kepentingan. Ironisnya, penguasa muslim pun hanya bungkam atas kezaliman yang terjadi.
Ilusi Perdamaian dibalik Board Of Peace
Beberapa waktu lalu, sebuah organisasi yang bernama "Board Of Peace" atau dewan perdamaian didirikan oleh Donal Trump. Tujuan terbentuknya organisasi ini adalah untuk memelihara perdamaian diseluruh dunia terrmasuk Gaza yang hingga saat ini terjebak konflik berkepanjangan. Sehingga inisiasi ini diklaim dapat memberikan perdamaian dan stabilitas. Sebagaimana visi dari Donal Trump yakni menginginkan untuk mengubah Gaza menjadi wilayah yang memiliki peluang, harapan dan kehidupan. Dalam forum ini juga telah bergabung beberapa negara termasuk arab saudi dan Indonesia. Namun hal ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan. Sebab, para penguasa muslim telah bersekutu dengan musuh yang menindas umat.
Forum ini jelas dipimpin oleh AS yang merupakan dalang utama dibalik konflik tersebut. Para pemimpin negara mayoritas muslim ini nampaknya telah salah memahami bahwa dengan bergabung mereka dapat masuk kedalam lingkaran yang disinyalir dapat memberikan akses untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan memastikan adanya perdamaian. Padahal mereka hanyalah alat legitimasi yang memudahkan AS lebih cepat mengendalikan Gaza yang sejak awal ingin menghapus Gaza dengan manuver politik bermotif ekonomi.
Padahal jika bercermin dari tragedi Nakba pada tahun 1948, maka akan nampak dengan jelas bahwa jalan menuju perdamaian hanyalah ilusi belaka. Dibalik topeng Board Of Peace terdapat pola berulang yakni pembersihan etnis tersistematis. Dengan demikian, Israel dapat dengan mudah memperluas wilayah di Gaza, Palestina. Setelah sebelumnya mencaplok tepi barat secara sepihak dan membangun proyek fisik bersama AS.
Sebelum terbentuknya BOP, dewan perdamaian dunia yakni PBB juga telah menawarkan Two State Solution bagi kedua kubu. Namun, tentu hal ini merupakan solusi utopis dan sangat berbahaya bagi masyarakat Palestina. Sebab, membiarkan Israel menduduki wilayah Palestina akan memudahkan mereka dalam mengambil alih wilayah secara keseluruhan.
Oleh karenanya, Entitas Yahudi diibaratkan antigen yakni benda asing yang masuk ke tubuh umat muslim. Mereka adalah virus yang merupakan produk buatan AS. Keberadaan mereka telah menginfeksi umat muslim hingga mengalami penderitaan kronis. Ironisnya penderitaan yang dialami umat muslim hari ini kian bertambah dimana sel sehat telah bermutasi menjadi sel kanker. Dialah penguasa muslim yang berkhianat dan telah menciptakan malapetaka hingga merugikan kaum muslimin.
Jihad dan Khilafah Solusi Tuntas
Kaum muslimin tak seharusnya abai terhadap problem yang telah lama menggerogoti umat. Terlebih penjajahan yang bersifat kronis. Tentu penyebab dari kegagalan solusi yang ditawarkan adalah karena tak pernah menyentuh akar masalah. Menjamurnya Zionis Israel di tanah kaum muslimin adalah akibat kompromi yang terlalu jauh sehingga area jajahan mereka semakin luas.
Di masa kekhalifahan Sultan Abdul Hamid II, tokoh dari Israel yang merupakan pendiri Zionisme bernama Theodore Herzl yang berusaha untuk membujuk pemimpin Turki Utsmani (Ottoman), untuk memberikan sebagian dari wilayah Palestina untuk bangsa Yahudi. Namun mendapat penolakan keras dari sang khalifah. Sebab tanah tersebut adalah hak seluruh kaum Muslimin. Oleh karena itu, solusi dua negara adalah sebuah ide buruk yang haram untuk diterapkan. Tanah Palestina adalah tanah Kharajiyah yang ditaklukkan oleh kaum muslim melalui peperangan. Maka jika menyetujui solusi dua negara sama halnya secara sukarela memberikan hak kaum muslim kepada musuh Islam.
Situasi Palestina saat ini mencerminkan betapa urgennya pertolongan dari saudara seakidahnya. Allah Subhanahu Wata'laa Berfirman,
"..., Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan." (Qs. Al-Anfal : 72)
Oleh karena itu, solusi untuk membebaskan tanah Palestina dari segala bentuk penjajahan adalah dengan jihad dan Khilafah. Dengan berdirinya Intitusi khilafah maka akan mendorong terjadinya jihad fisabilillah. Dengan adanya persatuan umat maka akan menggentarkan hati musuh yang ciut akan nyali kaum muslimin yang siap membela dan menolong agama Allah. Wallahu A'lam Bisshowab.


0 Komentar