Oleh Ummu Hanif
(Pendidik dan Pengamat Remaja)
Vivisualiterasi.com - Dunia pendidikan kembali diguncang oleh peristiwa tragis. Seorang mahasiswi dibacok oleh sesama mahasiswa ketika sedang menunggu sidang proposal di kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Peristiwa yang seharusnya menjadi momen akademik yang membanggakan justru berubah menjadi adegan kekerasan yang mengerikan. Pelaku menyerang dengan senjata tajam hingga korban terluka dan harus mendapatkan perawatan medis.
Motif yang beredar pun terdengar ironis: penolakan cinta. Hubungan yang sebelumnya terjalin ketika keduanya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) diduga berakhir dengan konflik emosional yang tidak dapat diterima oleh pelaku. Penolakan yang dalam kehidupan dewasa seharusnya dimaknai sebagai hal biasa, justru memicu tindakan brutal.
Peristiwa ini bukan sekadar kriminalitas kampus. Dia adalah alarm keras tentang kondisi psikologis dan moral generasi muda yang sedang mengalami krisis serius.
Ketika Emosi Mengalahkan Akal
Para psikolog sejak lama mengingatkan bahwa masa remaja adalah periode paling rentan dalam perkembangan emosi manusia. Psikolog perkembangan terkenal Erik Erikson menyebut fase ini sebagai masa pencarian identitas (identity vs role confusion), yaitu ketika individu sedang berusaha memahami dirinya, relasi sosialnya, dan makna keberadaannya.
Pada fase ini, kegagalan dalam hubungan sosial—termasuk penolakan cinta—dapat memicu krisis emosional yang mendalam jika individu tidak memiliki kematangan psikologis dan dukungan moral yang kuat.
Sementara itu, psikolog Amerika Daniel Goleman, melalui konsep emotional intelligence, menegaskan bahwa kecerdasan intelektual tidak menjamin seseorang mampu mengendalikan emosi. Tanpa kemampuan mengelola kemarahan, frustrasi, dan rasa kecewa, seseorang dapat bertindak impulsif bahkan destruktif.
Kasus pembacokan di lingkungan kampus ini menunjukkan dengan jelas bagaimana emosi yang tidak terkendali dapat berubah menjadi kekerasan yang mengancam nyawa.
Normalisasi Gaul Bebas dan Konflik Emosional
Namun persoalan ini tidak berhenti pada aspek psikologis individu. Fenomena tersebut juga berkaitan erat dengan perubahan nilai dalam kehidupan sosial generasi muda.
Di tengah arus budaya liberal, hubungan bebas antara laki-laki dan perempuan makin dinormalisasi. Pacaran, hubungan emosional tanpa komitmen, hingga relasi yang sarat konflik kini dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Padahal relasi seperti ini sering kali penuh dengan dinamika cemburu, posesivitas, dan ketergantungan emosional. Ketika hubungan tersebut mengalami konflik atau penolakan, sebagian remaja tidak memiliki mekanisme moral maupun spiritual untuk mengelola kekecewaan secara sehat.
Dalam perspektif agama, relasi yang tidak dibingkai oleh nilai moral memang berpotensi menimbulkan kerusakan sosial. Al-Qur’an memberikan peringatan tegas:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
(Q.S Al-isra’ : 32)
Larangan ini bukan hanya terkait perbuatan zina itu sendiri, tetapi juga segala interaksi yang membuka pintu menuju konflik moral dan emosional yang merusak.
Krisis Akhlak dalam Sistem Pendidikan
Peristiwa kekerasan yang terjadi di lingkungan akademik juga mengundang pertanyaan besar: apakah sistem pendidikan kita benar-benar berhasil membentuk karakter generasi?
Ulama besar Abu Hamid al-Ghazali sejak berabad-abad lalu telah mengingatkan bahwa pendidikan tanpa pembinaan akhlak hanya akan melahirkan manusia cerdas yang kehilangan arah moral.
Sementara pemikir pendidikan Islam modern Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut krisis utama pendidikan modern sebagai loss of adab, yaitu hilangnya kesadaran moral dan etika dalam diri manusia.
Kampus dapat menghasilkan sarjana yang cerdas secara intelektual, tetapi jika pendidikan karakter tidak dibangun secara serius, maka kecerdasan tersebut tidak cukup untuk menahan seseorang dari tindakan destruktif.
Islam Mengajarkan Pengendalian Diri
Dalam ajaran Islam, pengendalian emosi merupakan tanda kekuatan sejati. Nabi Muhammad ï·º bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
( HR. Sahih al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kekuatan dalam Islam bukanlah kemampuan melukai orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri.
Al-Qur’an juga memuji mereka yang mampu mengelola emosi dengan bijak:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain; Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Ali Imran : 134)
Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi dalam pembinaan generasi muda.
Alarm untuk Keluarga, Kampus, dan Negara
Kasus kekerasan ini seharusnya menjadi refleksi bagi semua pihak. Keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan negara memiliki tanggung jawab bersama dalam membina generasi.
Remaja tidak cukup hanya dibekali pengetahuan akademik. Mereka membutuhkan bimbingan moral, kecerdasan emosional, dan kesadaran spiritual agar mampu menghadapi konflik kehidupan dengan kedewasaan.
Tanpa itu, persoalan sederhana seperti penolakan cinta dapat berubah menjadi tragedi yang mengancam nyawa.
Kampus seharusnya menjadi ruang lahirnya peradaban, bukan panggung kekerasan. Jika tragedi seperti ini terus berulang, maka kita patut bertanya: apakah generasi kita sedang kehilangan arah?
Sebab sebuah bangsa tidak hanya runtuh karena krisis ekonomi atau politik. Dia juga dapat runtuh ketika generasinya kehilangan akhlak, kehilangan kendali diri, dan kehilangan rasa
takut kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.


0 Komentar