Subscribe Us

GAUL BEBAS MERAJALELA, ISLAM SOLUSI NYATA



Oleh Audina Putri
(Aktivis Dakwah Muslimah) 


Vivisualiterasi.com - Peristiwa pembacokan mahasiswi di UIN Sultan Syarif Kasim Riau menjadi tamparan kesadaran untuk seluruh masyarakat Indonesia. Kasus yang sedang viral ini bahkan dimuat di berbagai media nasional.

Kejadian ini harusnya menjadi alarm keras bagi para orang tua dan bukti kelam bagi negara, tentang generasi yang kehilangan arah dan salah pergaulannya.

Bisa-bisanya terjadi penyerangan seorang mahasiswa kepada mahasiswi menggunakan kapak dan senjata tajam dalam wilayah kampus, dan terjadi di tempat yang merupakan lingkungan pendidikan, bahkan hal ini terjadi pada saat sidang proposal, di mana seharusnya menjadi momentum harapan, malah berubah menjadi kejadian tragis akibat perasaan.
(Metrotvnews.com, 26/02/2026)

Alasan yang beredar penyebab penyerangan karena emosi yang tidak terkendali, yang bermula dari perasaan tak dihargai, namun kekerasan sekeji ini bukan lagi sekadar persoalan pribadi, melainkan buah dari sistem sekularisme, yang tumbuh dalam diri remaja saat ini.

Normalisasi pergaulan bebas dan pemakluman kebebasan, akan berdampak pada jiwa generasi yang seharusnya menjadi harapan peradaban. Kemudian tumbuh dan mengakar dalam sistem pendidikan sekularisme dan budaya liberal.

Benih kerusakan ditanam sejak agama dipisahkan dari kehidupan, hingga para remaja mudah tersulut perasaan, kemudian cinta dipahami tanpa tuntunan. Dan saat terjadi konflik muncul lah kekerasan karena hawa nafsu selalu diberi pembenaran.

Sekularisasi ibarat kabut tipis yang perlahan menelan cahaya kesadaran. Ia menjanjikan kebebasan, tetapi melahirkan kebingungan, sebab yang diagungkan adalah kebebasan pilihan dan pemuasan keinginan.

Faham ini disebar lewat media, tontonan, dan lingkungan pertemanan. Hingga akhirnya halal-haram menjadi dikesampingkan dan mengutamakan hidup bebas tanpa batasan. Norma agama dianggap beban, disaat popularitas menjadi ukuran kemuliaan.

Kasus seperti ini juga menunjukkan rapuhnya benteng moral generasi muda saat ini. Kebanyakan dari mereka tumbuh dalam lingkungan yang mempromosikan bahkan mencontohkan kebebasan berekspresi yang bablas tanpa batas. 

Inilah sebab generasi kita menjadi kehilangan arah, apalagi sistem pendidikan saat ini lebih menekankan capaian akademik daripada pembentukan keimanan.

Makin maraknya kekerasan di kalangan remaja, juga tidak dapat dilepaskan dari pola kehidupan yang sangat menjauh dari nilai-nilai ketakwaan. Ketika standar baik dan buruk tidak lagi ditentukan oleh syariat, melainkan melalui nafsu, maka manusia akan menjadikan perasaan sebagai kompas dalam berprilaku.

Padahal perasaan rentan berubah-ubah, karena dipengaruhi oleh emosi, lingkungan, bahkan tekanan sosial. Akibatnya, keputusan yang diambil sering kali berdasarkan emosi sesaat dan berujung pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam sistem kapitalisme, generasi muda dipandang sebagai aset produksi dan mesin pembangunan. Mengutamakan keterampilan dan pencapaian, tapi lupa memperkokoh ruh dan penguatan keimanan.

Berbeda dengan suasana kehidupan Islam, pada masa penerapan syariat secara keseluruhan, dasar pendidikan adalah akidah dan ketakwaan, dan yang memikul tanggung jawab pembinaan adalah keluarga, masyarakat, dan kepemimpinan.

Kurikulum pendidikan dalam Islam tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Kesadaran inilah yang menjadi pengendali paling kuat bagi manusia dalam menjaga sikap dan tindakannya.

Syariat ditegakkan dalam bidang pendidikan, pergaulan, dan penegakan hukum. Sejak kanak-kanak ditanamkan kesadaran melalui pengajaran dan pembiasaan. Akhirnya generasi mampu menjaga kehormatan karena ada rasa takut akan pengawasan sang pencipta dalam setiap tindakan.

Selain itu, dalam Islam juga mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan agar terjaga dari fitnah dan potensi kemaksiatan. Aturan tersebut datang dari Allah Swt, bukan untuk membatasi kebebasan manusia, melainkan untuk menjaga kehormatan wanita dan ketenangan hidup di dunia.

Masyarakat juga ikut serta membentengi diri dari penyimpangan melalui amar makruf dan nahi munkar. Solusi atas tragedi kekerasan bukan sekadar pengetatan pengamanan, melainkan perubahan sistem dan peradaban.

Maka peran utama negara adalah sebagai pengemban amanah kepemimpinan, sebab perubahan dimulai dari pendidikan berbasis akidah dan pengaturan pergaulan, hingga muncul kesadaran umat untuk menolak sekularisme dan kembali pada aturan sang pencipta. 

Syariat menjadi solusi mutlak persoalan, karena bisa menjaga jiwa, akal, keturunan, dan kehormatan. Kedamaian pun akan tercipta melalui ketundukan dan ketaatan.

Jika sekularisme terus menjadi landasan, maka yang lahir adalah kerapuhan dan kehancuran. Tapi bila syariat yang menjadi pegangan, maka yang tumbuh adalah kemuliaan dan keselamatan.

Dengan demikian, tragedi kekerasan yang terjadi harusnya menjadi momentum refleksi. Bukan sekadar menangkap pelaku, dan memberikan hukuman semata, tetapi juga memperbaiki arah pendidikan dan kehidupan sosial agar kembali berlandaskan syari'at IsIam secara keseluruhan. 

Sebab hanya dengan fondasi iman yang kuat, generasi akan mampu mengendalikan diri dan menjaga kemuliaan akhlak. Sehingga akan bisa tercapai generasi yang mulia dan bertaqwa. Wallahua'lam bish-showab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar