Subscribe Us

CINTA DITOLAK, KAPAK BERTINDAK



Oleh Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak & Keluarga)


Vivisualiterasi.com - Kabar pilu kembali hadir menghiasi kehidupan di negeri ini. Sedih, miris, dan geram tentunya akan terasa ketika kita mendengar kasus pembunuhan. Apalagi kalau ternyata pelakunya adalah orang terdekat si korban, nah lengkaplah perasaan sedih itu.

Dikutip dari salah satu laman nasional yang mengabarkan bahwa salah satu mahasiswi Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau berinisial FA menjadi korban pembacokan. Kejadiannya pada Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Pelaku yang berinisial RM, melakukan penganiayaan serta pembacokan pada saat korban hendak mengikuti seminar proposal. Peristiwa tersebut terjadi di lantai dua Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Motifnya adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Keduanya bertemu saat KKN, Faradilla yang memang baik dan ramah pada semua orang telah ditafsirkan lain oleh RM sehingga bibit cinta tumbuh dan terus bersemi meski setelah KKN berakhir. Berkali-kali korban menyampaikan bahwa dirinya telah memiliki kekasih dan menganggap RM sebagai teman biasa. Namun, cinta RM membutakan hatinya hingga tega melukai korban.

Akibat normalisasi pergaulan bebas, pencampurbauran lelaki dan perempuan tanpa ada uzur yang syar’i telah dianggap biasa. Dengan dalih pertemanan dan bersikap baik pada semua orang menyebabkan pihak tertentu merasa diberi sebuah harapan. Maka cinta bertepuk sebelah tangan pun kerap terjadi hingga ujung-ujungnya sakit hati. Bila cinta ditolak, kapaklah yang kemudian bertindak. Naudzubillah.

Kapitalisme Biang Keladi Kerusakan

Demikianlah dampak dari sistem kapitalis sekuler yang diterapkan oleh negara. Perkembangan zaman saat ini makin hari makin rusak. Teknologi makin canggih, tetapi generasi makin rapuh. Pengetahuan makin berkembang, tetapi generasi makin kehilangan arah, emosi tak stabil dan bermental lemah. Saat ditimpa musibah atau dilanda masalah sedikit saja sudah lunglai tidak berdaya. Maka saat cinta bertepuk sebelah tangan, solusi praktis dilakukan tanpa pertimbangan kebenaran.

Atas nama kebebasan yang menjadi salah satu unsur yang diagungkan dalam Kapitalisme Sekularisme, menjadikan manusia bertindak sesuka hati. Bebas berpendapat, bebas memiliki, bebas bergaul, dan berbagai kebebasan lainnya. Dalam Kapitalisme Sekularisme, agama disingkirkan di sudut ruang individu. Agama hanyalah sebuah privasi seputar ibadah ritual antara makhluk dengan Tuhannya.

Agama tak boleh dibawa dalam ranah kehidupan. Sebaliknya segala perbuatan berpijak pada manfaat dan keuntungan materi semata. Alhasil, lahirlah perilaku pemuda yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan, dan pergaulan bebas. Hal ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam membentuk generasi berkepribadian mulia. Sekularisme telah membentuk standar kebebasan dan tindakan yang semaunya dalam diri generasi tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

Sekularisme juga menjadikan adanya normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas di tengah keluarga dan masyarakat. Hal ini berdampak besar dalam membentuk perilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada kemaksiatan yang lebih besar. Fokus negara dalam Kapitalisme tidak memprioritaskan pembinaan generasi yang bertakwa dan mulia.

Pendidikan dalam Kapitalisme hanya mengacu pada nilai akademik, bukan pada ketakwaan generasi. Negara hanya menjadikan generasi sebagai aset yang menunjang faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. Padahal generasi muda sejatinya adalah tonggak perubahan yang menentukan masa depan suatu bangsa.

Generasi Mulia Dengan Islam

Islam bukan hanya sekadar agama ritual berupa penyembahan Tuhan secara fisik, melainkan sebuah ideologi (mabda) yang mengharuskan pemeluknya untuk memahami makna penyembahan melalui proses berpikir mendalam. Sebagai sebuah ideologi, Islam tak hanya mengatur masalah ibadah ritual, melainkan mengatur di semua lini kehidupan manusia mulai dari ranah pribadi, sosial, pendidikan, ekonomi, kesehatan, juga politik. Sistem pendidikan dalam Islam dibangun di atas dasar akidah. Tujuan penanaman akidah ini adalah untuk membentuk kepribadian Islam dengan mengaplikasikan pola pikir ke dalam pola sikap yang sesuai nilai syariat.

Melalui sistem pendidikan Islam, generasi dididik untuk memiliki kesadaran agar taat pada syariat, memahami hukum syara’, bertanggung jawab atas perbuatannya, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilannya saja. Dalam Islam generasi dijaga oleh tiga pilar, yang pertama adalah keluarga yang mendidik dan memberi panutan ketakwaan, kedua adalah masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Sedangkan yang ketiga adalah negara Khilafah yang menerapkan aturan dan sangsi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat.

Negara Khilafah dengan syariat Islam sebagai landasan menjalankan kekuasaanya, juga mengatur interaksi masyarakat dengan sistem pergaulan dalam Islam. Sistem pergaulan Islam akan memisahkan interaksi lelaki dan perempuan untuk tidak bercampur baur kecuali pada perkara yang diperbolehkan oleh syariat. Dalam mewujudkan naluri nau' atau naluri berkasih sayang pun, Islam telah memberikan aturan dan batasan.

Islam tidak pernah melarang seseorang jatuh cinta, tetapi Islam mengatur agar cinta itu membawa kedamaian di hati. Bahkan saat tak ada dana untuk meminang pun, negara Islam akan memberikan itu agar tak ada kemaksiatan yang terjadi karena cinta. Maka ketika cinta bertepuk sebelah tangan, tak akan ada kegalauan karena keimanan yang menancap tajam serta pemenuhan sesuai aturan syariat yang difasilitasi oleh negara.

Khatimah

Kerusakan generasi takkan bisa dipulihkan kembali tanpa adanya syariat Islam yang hadir dalam aturan bernegara. Generasi akan senantiasa kehilangan arah tujuan bila tak dibimbing dengan Islam. Generasi tidak akan memahami makna cinta sejati saat ruh Islam tidak membersamai pola pikir dan pola sikap. Cinta hanya akan dimaknai sebagai pelampiasan hasrat alamiahnya. Padahal cinta tak hanya sebatas rasa, tetapi ada tanggung jawab dan ketulusan hati untuk saling mendukung dalam beribadah dan mengharap rida Allah semata.

Dari Abdullah bin mas'ud RA, Nabi Muhammad saw. bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu para sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi'ut tabi'in)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Generasi mulia hanya akan terlahir saat Islam diterapkan dalam kehidupan dan menjadi aturan negara. Khalifah sebagai pemipin dalam negara Khilafah akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk meriayah generasi dengan syariat Islam. Dengan sistem pendidikan dan sistem pergaulan Islam, interaksi yang berkualitas dan bersakhsiyah Islam akan terwujud. Generasi emas dan masyarakat yang damai sejahtera pun akan terbentuk. Wallahua’lam bissawab.[] ZDS

Posting Komentar

0 Komentar