Subscribe Us

BOARD OF PEACE: KONSPIRASI JAHAT AS-ISRAEL KUASAI PALESTINA


Oleh Frida
(Penulis Opini Muslimah Cinta Qur’an)


Vivisualiterasi.com - Umat Islam di Palestina sepertinya tidak punya hak hidup di tanah mereka yang selama ini dikuasai dan dijarah Israel. Suara dunia internasional juga bungkam atas kondisi warga gaza Palestina yang setiap hari dijadikan sebagai ladang pembantaian Israel. 

Alih-alih mereka berteriak pelanggaran HAM, justru mereka diam membisu seolah-olah umat Islam Palestina layak dieksekusi dan dihabisi meskipun pelanggaran ada di depan mata mereka. Penghancuran dan pengusiran warga muslim Gaza merupakan agenda utama zionis Israel.

Idit Silman menteri perlindungan lingkungan yang merupakan anggota partai Likud di bawah pemerintahan perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa satu-satunya solusi untuk jalur Gaza adalah dengan menghapus penduduk Palestina. Dia mengatakan, itu gagasan yang realistis dan juga menyebut “bahwa tidak ada tempat bagi terorisme” yang ditujukan kepada warga muslim Gaza Palestina. 

Gagasan ini sejalan dengan agenda perdana menteri Israel Benyamin Netanyahu yang berkomitmen dan mempromosikan secara masif pengusiran warga Palestina di Gaza. Hal yang sama juga disampaikan Donald Trump meminta agar seluruh pengungsi Palestina dan warga Gaza dipindahkan ke negara penampung. 

Fakta menunjukkan bahwa AS dan Israel secara nyata ingin menghilangkan identitas Palestina dan menguasainya secara total agar Israel berdiri diatas puing-puing kedaulatan Palestina.

AS dengan pongahnya di panggung World Economic Forum (WEF) datang seperti pahlawan menawarkan gagasan perdamaian bagi Palestina. Board of Peace yang digagas Donald Trump diklaim sebagai “Revolusi Diplomasi” untuk menyelesaikan konflik Ukraina, Gaza hingga krisis global lainnya. 

Padahal AS biang kerok dari perselisihan maupun konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, dan AS juga-lah yang selama ini menjajah dan mencaplok negeri-negeri muslim di antaranya, Irak, Libya, Afghanistan, Sudan dan negeri muslim lainnya. Kemudian dia datang dan berdiri di depan negara-negara lain termasuk di dalamnya negeri-negeri muslim sembari menawarkan konsep perdamaian, yaitu Board of Peace. 

Padahal sejatinya, AS adalah negara penjajah kelas kakap dan tidak layak umat Islam satu barisan bersama penjajah. Agenda Board of Peace atau dewan perdamaian yang digagas AS sejatinya adalah sebuah legitimasi atas genosida dan penjajahan Israel terhadap Palestina selama ini.

Trump menilai bahwa program ini sebagai mandat “Negosiasi Damai Berbasis Kepentingan Nasional”. Pada akhirnya kepentingan nasional yang dimaksud adalah untuk kepentingan negara adidaya seperti AS.

Banyak kalangan memuji bahwa proyek BoP sebagai alternatif PBB yang lebih efisien. Padahal program yang ditawarkan selama ini tidak ada bedanya sama sekali dengan program lain semisal Abraham Accords yang digagas tahun 2020 yang tidak memiliki keuntungan bagi Palestina, bahkan hanya dijadikan pengakuan Israel untuk menormalisasi hubungan Israel dan negara-negara Timur Tengah.

Untuk mewujudkan ambisinya, Donald Trump merangkul sejumlah negeri-negeri muslim untuk bergabung dalam dewan perdamaian tersebut, sekaligus mencari justifikasi dari negera-negara muslim untuk mendukung langkahnya. 

Indonesia, Qatar, Mesir, Jordania, Turki, Arab Saudi, Pakistan dan UEA merupakan nama-nama besar di dunia Islam yang penduduknya juga mayoritas muslim tergabung dan menandatangani pakta Dewan Perdamaian ini. Mereka melibatkan diri dari proyek ini padahal sejatinya proyek ini merupakan pintu masuk untuk melegalisasi penjajahan sekaligus untuk menguasai palestina secara total dengan meminta keridhoan negeri-negeri muslim yang menjadi satelit AS.

Sikap politik yang ditunjukkan negeri-negeri muslim merupakan sikap ketundukan dan kepatuhan kepada dominasi AS bukan sikap politik dalam membela umat Islam Palestina. Tetapi mengkerdilkan sikap pembelaan terhadap Palestina dan pada akhirnya menjual kedaulatan mereka dan tunduk di bawah perintah penjajah.

Faktanya mereka sudah masuk dan bergabung dalam dewan perdamaian tersebut, tetapi Israel masih saja melakukan pemboman terhadap rakyat Gaza. Dengan proyek Dewan Perdamaian tersebut menjadikan Palestina dikuasai secara sempurna tanpa menyisahkan sedikit pun wilayah Palestina, termasuk di dalamnya Gaza. 

Padahal proyek ini sesungguhnya untuk menghabisi Palestina dari akar sejarahnya, bukan perdamaian seperti yang digagas AS tetapi ada niat jahat dibalik gagasan proyek ini. Sebab perdamaian itu tidak akan pernah ada selama Israel masih bercokol di tanah Palestina yang diberkahi.

Pasalnya, Israel ada dalam rangka untuk menjajah dan juga mendapat sokongan dari negara penjajah pula yaitu AS. Board of Peace (BoP) yang ditawarkan AS sesungguhnya hanya sekedar tipu muslihat, karena motif utamanya adalah menghapus keberadaan negara Palestina dari muka bumi ini. 

BoP bukan siklus yang terpisah dengan kebijakan lain, tetapi fragmen dari narasi besar kepentingan ideologi Kapitalisme Sekuler. BoP tidak lebih dari anak kandung ideologi kapitalisme yang dibangun di atas hegemoni dan balance of power. Bukan instrumen keadilan tetapi instrumen hegemoni politik dan kekuasaan untuk meruntuhkan peradaban tertentu (palestina) serta mempertahankan status quo, yaitu melindungi penjajah serta mengamankan kepentingan kekuatan besar dan terus membiarkan penindasan berlangsung. 

Gaza merupakan bukti nyata sebagai mana data WHO 2026 lebih dari 30.000 warga sipil menjadi korban sementara dunia barat tetap berada pada sikap hipokritnya tetap berbicara dan bersuara lantang membela diri bagi zionis.

Dengan demikian umat Islam harus mewaspadai setiap proyek yang ditawarkan dan digagas AS sebab dibalik proyek itu merupakan penyesatan politik yang bisa mengecoh umat Islam dengan istilah/slogan yang membuat umat Islam terlena, diantaranya kata perdamaian yang disematkan atau dibungkus di dalamnya. 

Nasib Palestina tidak bisa digantungkan kepada penjajah AS dan lembaga-lembaga bentukan mereka. Sebab mereka sejatinya adalah penjajah, penjahat, dan pembunuh berdarah dingin. Harapan yang harus dilakukan adalah berjuang bersama-sama untuk mewujudkan kembali institusi pelindung umat Islam, yaitu Khilafah Islamiyah. 

Khilafah merupakan perisai bagi umat dari segala tipu daya yang dilakukan musuh-musuh mereka. Untuk melepaskan cengkeraman Palestina dari zionis Israel tiada lain selain berjuang bersama para pengemban dakwah ideologis yang setiap waktu mendakwahkan serta menjelaskan kepada umat tanpa henti, baik siang maupun malam arti penting penegakkan ideologi islam dalam naungan Khilafah. Sebab dengan Khilafah-lah umat islam akan terlindungi dari semua hegemoni serta aneksasi dari negara-negara kafir. Wallahua'lam bish-shawab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar