Subscribe Us

BOARD OF PEACE ATAU BOARD OF PIECE BAGI PALESTINA?



Oleh Huri ‘Ainun
(Kontributor Vivisualiterasi) 


Vivisualiterasi.com - Board of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh Donald Trump dibentuk dengan tujuan menciptakan perdamaian dengan menghentikan gencatan senjata yang tengah terjadi antara Gaza dan Israel. Namun, faktanya saat ini wilayah Gaza masih mengalami krisis dan bergulat dengan kehancuran serta kelaparan. Ratusan ribu manusia masih hidup di tenda pengungsian, bahkan pendidikan terhenti (CNNIndonesia.com). Tidak hanya itu, di Tepi Barat, tindak kekerasan seperti pembunuhan, penembakan membabi buta, hingga penggusuran masih terus dilakukan oleh tentara IDF maupun pemukim Israel terhadap warga Palestina (AntaraNews.com).

Selain itu, terbentuknya National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) yang diawasi oleh BoP hanya berfungsi sebagai badan pengawas dalam proses pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum dan satu rantai komando, serta mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata melalui proses verifikasi yang ketat. Ditambah lagi, anggota NCAG berisikan 15 teknokrat Gaza yang berfokus pada rekonstruksi Gaza.

Berdasarkan fakta-fakta ini, apakah Board of Peace (BoP) benar-benar diciptakan bagi Palestina atau justru sebagai Board of Piece?

Nyatanya, warga Palestina sendiri bersikap skeptis terhadap BoP yang diinisiasi oleh Trump. Hal ini karena Amerika Serikat kerap berpihak dan mendukung Israel dalam kebijakan politik maupun militer, bahkan tidak jarang menggunakan hak veto di PBB demi membela Israel. Di samping itu, krisis yang berulang dialami oleh warga Gaza maupun Tepi Barat terjadi akibat tindakan Israel yang telah berkali-kali melanggar perjanjian damai.

BoP disebut-sebut diciptakan untuk merekonstruksi Gaza. Dengan kata lain, BoP dianggap sebagai bentuk legitimasi atas pembersihan etnis, genosida, dan perampasan tanah Palestina agar “New Gaza” yang diimpikan oleh Amerika Serikat dan Israel dapat terwujud. Demi mewujudkan cita-cita tersebut, Trump mengajak para penguasa negeri Muslim untuk mendukung dan melegitimasi rencana tersebut. Oleh karena itu, pembentukan NCAG dinilai bukan untuk mewakili kepentingan Palestina, melainkan sebagai upaya membentuk opini publik karena NCAG merupakan bagian dari BoP yang bertujuan menciptakan “New Gaza”.

Dengan melihat hal ini, muncul anggapan bahwa BoP bukanlah Board of Peace yang membawa perdamaian, melainkan Board of Piece yang membagi-bagi wilayah Palestina demi kepentingan tertentu. Amerika Serikat dan Israel dipandang sebagai sekutu yang ingin memperluas pengaruh melalui cara politik, ekonomi, maupun militer. Mereka dinilai membawa kerusakan dengan dalih perdamaian, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 11 yang artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.’” Selain itu, Allah juga berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 64 yang berbunyi: “…Mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Selain itu, Allah juga menegaskan agar kaum Muslim tidak mudah mempercayai pihak yang memusuhi Islam, sebagaimana firman-Nya: “Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (Q.S. Al-Maidah: 82). Oleh karena itu, muncul pandangan bahwa umat Islam tidak seharusnya mendukung persekutuan maupun solusi yang ditawarkan pihak-pihak tersebut. Sebab, pembebasan Palestina diyakini hanya dapat terwujud dengan persatuan umat Muslim, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 141 yang artinya:
“(Mereka itu adalah) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah, mereka berkata, ‘Bukankah kami (turut berperang) bersamamu?’ Jika orang-orang kafir mendapat bagian (dari kemenangan), mereka berkata, ‘Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?’ Allah akan memberi keputusan di antara kamu pada hari Kiamat. Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.”

Jika melihat sebagian penguasa negeri Muslim yang menyetujui adanya BoP, bahkan turut meromantisasi konsep “New Gaza” karena keberadaan NCAG, maka hal tersebut dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap umat, bukan upaya menciptakan perdamaian sejati. Amerika Serikat dan Israel dianggap sengaja membentuk Board of Piece untuk memecah belah dan melemahkan persatuan umat Islam.

Dengan demikian, sebagai umat Muslim, sudah saatnya menyadari bahwa Palestina diyakini hanya dapat terbebas melalui persatuan visi dan perjuangan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kepemimpinan yang kuat agar terbentuk kekuatan umat Islam secara global. Wallahu a‘lam. (Dft)

Posting Komentar

0 Komentar