Subscribe Us

BERAS AS MASUK, KEDAULATAN PANGAN DIUJUNG TANDUK


#Popro (Pojok Propagandis)


Vivisualiterasi.com - Impor 1.000 ton beras khusus dari AS berdasarkan Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) telah memicu perdebatan serius tentang kedaulatan pangan Indonesia. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah yang merugikan petani lokal dan memperkuat ketergantungan pada produk asing. 

Kebijakan impor 1.000 ton beras khusus dari AS ini sejatinya bukan soal memenuhi stok pangan, melainkan cermin rapuhnya kedaulatan bangsa yang didikte kepentingan asing melalui perjanjian resiprokal yang tidak adil. Rencana ini membuktikan bahwa posisi Indonesia masih menjadi pengikut dalam politik internasional. Meski volumenya kecil, harga beras AS jauh lebih mahal, sehingga kebijakan ini murni lahir dari ketundukan pada tekanan global, bukan demi kemaslahatan nasional.

Masuknya produk asing tanpa hambatan tarif dipastikan akan makin menyengsarakan petani lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian. Hal ini menunjukkan watak sistem kapitalis, bahwa negara abai melindungi rakyat dari penjajahan ekonomi. Dalam sistem Islam, negara wajib menjadi pengurus dan pelindung umat yang aktif mensubsidi petani demi mewujudkan kemandirian pangan sejati yang berdaulat. Oleh karenanya, kebijakan impor yang merugikan ini haram dilakukan dan wajib ditolak demi menjaga martabat umat.[] Gien Rizuka

Posting Komentar

0 Komentar