Subscribe Us

AKIBAT PERGAULAN BEBAS JADI ANARKIS TANPA BATAS



Oleh Hany Handayani Primantara, S.P 
(Aktivis Muslimah Banten)


Vivisualiterasi.com - Gempar seorang mahasiswi Fakultas syariat dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang terkapar dibacok pacar saat sidang wisudanya. Malang nian nasib Faradilla Ayu akibat dibacok mahasiswa berinisial RM, bagian kepala dan tangannya mengalami luka akibat senjata tajam. Tidak ada yang berani melerai atau menolongnya karena takut dengan senjata tajam yang dibawa oleh pelaku. Disinyalir motif pelaku berkaitan dengan hubungan pribadi dengan korban. (Metrotv.com, 26-02-2026)

Awalnya ramai isu motif pelaku karena cinta si pria ditolak akhirnya sakit hati dan nekat melukai sang pujaan hati. Kisah percintaan saat KKN yang berlanjut usai kegiatan tersebut menjadi momen yang apik. Namun makin ke sini isu mulai condong pada sang gadis yang melakukan hubungan perselingkuhan dan perzinahan atas dasar suka sama suka dengan pelaku namun tak mau diakui sebagai kekasih. Sungguh miris, perilaku tindak kekerasan memang tidak bisa dibenarkan namun perbuatan keduanya sebelum kejadian nahas tadi pun merupakan aktivitas yang terlarang dalam Islam.

Hidup Bebas Tanpa Batas

Tindakan kekerasan bisa jadi merupakan puncak dari segala kekesalan yang dialami pelaku kriminal terhadap korban. Rasa cinta yang awalnya tumbuh berubah jadi benci akibat tolok ukur yang salah terhadap makna cinta itu sendiri. Tolok ukur pendidikan sekuler membuat rapuh pribadi muslim menjadi hamba dunia. Akhirnya aktivitas kekerasan, pembunuhan, perzinahan yang diawali dengan pergaulan bebas jadi hal yang legal dan lumrah di tengah masyarakat.

Pemahaman sekuler menjadikan seorang muslim memiliki standar hidup bebas tanpa batas. Bukan lagi menggunakan panduan tolok ukur syariat yang mengikat. Fenomena kisah cinta ditolak dukun bertindak, perselingkuhan dalam rumah tangga, kekerasan dan semacamnya merupakan bukti nyata atas normalisasi nilai-nilai liberalisme dalam masyarakat. Hal ini bukan hanya berdampak pada kedua pelaku maksiat namun juga berdampak besar di tengah keluarga dan masyarakat.

Dampak yang ditimbulkan pada keluarga dan masyarakat biasanya bersifat pasti dan berulang. Jika tidak diputus mata rantai dari benang merah masalahnya, maka tidak menutup kemungkinan yang terjadi justru seperti menelusuri rantai setan yang tiada berujung. Satu demi satu pilar syariat dilanggar, dan akhirnya berakhir pada kenestapaan bagi pelaku dan juga korban. Sudah banyak peristiwa buruk terjadi efek dari pelanggaran syariat.

Harusnya hal tadi bisa menjadi peringatan dan pelajaran bagi mereka yang berpikir sebab peran negara di tengah umat pun telah dianggap nihil. Prioritas dari negara yang menerapkan sistem kapitalisme hanya berorientasi materi dan faktor ekonomi yang bernilai produktif. Pendidikan generasi bukan hal yang utama, apatah lagi kerusakan masyarakat. Negara hanya berfungsi sebagai regulator dan pengawas, tidak lebih dari itu. Jadi wajar jika kerusakan masyarakat makin banyak dan sering terjadi.

Mengembalikan Hidup Berlandaskan Syariat

Kerusakan masyarakat yang sering terjadi merupakan akibat lalainya manusia dari kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar. Amal perbuatan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan hilang ditelan rasa takut dianggap kepo ranah pribadi orang lain. Ditambah lagi ciutnya keberanian untuk menentang kemaksiatan memperlebar penyimpangan yang terjadi. Hal ini yang membuat luka batin masyarakat terus menganga. Berbeda ketika masyarakat berani untuk dakwah dan tegas terhadap kemaksiatan. Akan lahir suasana yang mendukung ketaatan dan bisa menjauhkan dari berbagai penyimpangan perilaku maksiat.

Kesadaran akan pentingnya dakwah ini hanya lahir dari ketakwaan individu berlandaskan sistem pendidikan Islam di dalam rumah. Pendidikan Islam yang dibangun atas dasar keimanan bertujuan membentuk kepribadian Islam, yakni memiliki pola pikir Islami dan pola sikap Islami. Keduanya harus selaras dan beriringan. Generasi muslim dididik agar memiliki kesadaran untuk taat pada Allah Swt. yang dimanifestasikan melalui syariat-Nya. Tolok ukur halal dan haram jadi panduannya. Walhasil akan tumbuh rasa tanggung jawab yang lahir dari ketakwaan. Jadi pendidikan Islam tak melulu bicara capaian akademik atau sekadar keterampilan semata.

Peran dari pilar terakhir yakni negara merupakan tonggak penting lahirnya sebuah masyarakat yang taat syariat. Sebab dalam Islam hanya negara yang berhak menerapkan aturan dan sangsi sesuai ketentuan Allah Swt. Baik untuk memberikan efek jera maupun mencegah kemaksiatan itu terjadi dalam rangka menjaga keamanan di tengah masyarakat. Sinergi antara ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan kewenangan negara menjadi hal yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini untuk bisa mengembalikan kehidupan berlandaskan syariat Islam. Sebab hanya hidup di bawah syariat masyarakat jadi lebih taat dan berkah.

Sebagaimana janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam ayat berikut:
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)

Wallahu alam bishowab.[] ZDS

Posting Komentar

0 Komentar