Subscribe Us

LAWAN TIPU DAYA AS: TERAPKAN ISLAM KAFFAH

Oleh Nadia Salsabyla
(Aktivis Dakwah Muslimah)

Vivisualiterasi.com-Akhir Januari lalu, Presiden Prabowo menandatangani piagam Board Of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh presiden Amerika Serikat Donald Trump. BoP sendiri dinilai sebagai komitmen nyata demi menyelesaikan konflik di Gaza. Kondisi ini menimbulkan kritik dan penolakan dari berbagai kalangan masyarakat. 

Perjanjian damai dan gencatan senjata antara Palestina dan Israel bukan kali pertama. Bahkan pihak yang menginisiasi adalah pihak yang sama dengan yang mendukung serangan Israel. Banyak pihak berharap perdamaian benar-benar terwujud di Palestina. Namun faktanya Israel kembali melanggar perjanjian dan menumpahkan darah warga Palestina.

Pada Rabu (4/2/2026) Israel melancarkan serangan udara dan tembakan tank di Jalur Gaza yang sedikitnya menewaskan 21 warga Palestina. Dilanjutkan serangan udara pada Jumat (6/2/2026) yang menghantam sebuah bangunan di Khan Younis. Menurut warga, serangan ke-dua ini mengenai sebuah rumah yang berada di seberang sekolah yang menjadi lokasi pegungsian.

BoP: Tipu Daya AS

Banyak yang percaya dengan janji manis Trump. Terperdaya dengan harapan palsu, hingga rela mengeluarkan ‘iuran’ dengan jumlah fantastis meski kondisi rakyat sendiri juga miris. Sungguh tidak ada yang bisa diharapkan dari Israel dan sekutunya. Mereka terus berjanji tapi tidak pernah ditepati.

Di tahun 2025, gencatan senjata yang sudah disepakati antara Israel dan Hamas -selaku perwakilan Palestina- tidak berlangsung lama. Hanya beberapa hari setelah kesepakatan, pihak Israel melakukan serangan brutal. Namun, bukan zionis namanya jika tidak pandai memutar balikkan fakta. Mereka beralasan serangan itu merupakan balasan dari pelanggaran gencatan senjata yang terlebih dahulu dilakukan oleh pihak Hamas.

Hal lain yang penting digaris bawahi juga adalah terkait keikutsertaan Israel dalam BoP. Memang benar bahwa Indonesia memiliki kewajiban dalam hukum internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatan genosida hingga pendudukan ilegal di wilayah Palestina. Dibandingkan melaksanakan mandat tersebut, Indonesia justru lebih tampak sebagai pihak yang melegitimasi Israel dengan mengubah statusnya dari pelaku kejahatan genosida menjadi mitra diskusi yang setara, karena tidak terlibatnya Palestina dalam BoP.

Lebih lanjut, jika benar Indonesia ingin mendukung penuh perdamaian di wilayah Palestina, laiknya Presiden memberikan bantuan itu secara langsung kepada pihak yang bersangkutan. Bukan melalui perantara yang sudah jelas mendukung, bahkan jadi donatur bagi genosida di Palestina. 

Demikianlah tipu daya AS dalam melanggengkan penjajahan di Palestina. Hingga para pemimpin di negeri-negeri muslim tidak punya nyali untuk menolak apalagi menantang pelaku kejahatan.  Padahal kaum muslim dan negerinya memiliki potensi besar, namun dikerdilkan dihadapan kafir penjajah. 

Tegas Terhadap Kemunkaran

Islam mengajarkan bersikap tegas terhadap kemunkaran. Biasa dikenal sebagai nahi munkar (mencegah keburukan). Banyak seruan dalam Alquran dan sunnah terkait sikap kaum muslim menghadapi kondisi kemunkaran dan pelakunya. Di antaranya firman Allah di surat Al-Fath ayat 28 yang artinya, “Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka ...”.

Makna kafir dalam potongan ayat di atas bukan hanya orang yang berpaling dari keimanan kepada Allah. Tapi juga orang-orang yang berbuat kerusakan, kemaksiatan dan melampaui batas. Sikap seorang muslim pun telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad ï·º ketika beliau memimpin Madinah. Rasulullah memberikan putusan untuk memerangi orang-orang yang menghalangi dakwah Islam. Beliau telah membuktikan bahwa mengatasi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin tidak cukup dengan perjanjian damai saja, namun juga jihad fii sabilillah.

Jihad bisa terjadi karena penyatuan kaum muslimin di bawah naungan sistem Islam. Tanpa adanya penyatuan ini, kaum muslimin ibarat anak kehilangan induknya. Tercerai berai, tidak peduli satu sama lain, bahkan bisa salah berpihak pada pembunuh induknya. Sudah semestinya kaum muslimin segera menyadari potensi umat ini dan kembali pada fitrah, yakni berhukum dengan islam kaffah.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa agama dan kekuasaan (negara) merupakan saudara kembar yang tak terpisahkan, di mana agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang berdiri tanpa pondasi akan roboh, dan sesuatu tanpa penjaga akan musnah.

Wallahu a’lam bisshowab.[Irw]


Posting Komentar

0 Komentar