Subscribe Us

LAGI, KASUS BUNUH DIRI TERJADI

Oleh Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak & Keluarga)

Vivisualiterasi.com-Sedih berbalut pilu melihat berita yang kembali menimpa sosok anak kelas 4 SD di Nusa Tenggara Timur. Sebut saja YBS (10), ia adalah salah satu siswa di Sekolah Dasar Kabupaten Ngada, NTT. Ia ditemukan gantung diri pada pohon cengkeh di dekat tempat tinggalnya. Korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Didapatkan info dari warga sekitar bahwa keluarga kurang memberikan perhatian kepada YBS. Korban tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun. Alasan korban sendiri mengakhiri hidupnya adalah karena sang ibu tidak mengabulkan permintaannya untuk membeli buku dan pena. (kompas.id, 04/02/2026)

Sebagai seorang ibu, tentu kejadian ini begitu menyayat hati. Begitu pedih rasanya hingga tak sanggup melontarkan kata-kata lagi. Ya, apa mau dikata fakta di atas sudah terjadi dan tidak bisa lagi mengembalikan waktu untuk berputar ulang. Kejadian ini adalah menjadi alarm keras bagi kita semua terutama pemerintah. Karena masalah yang kecil, ternyata efek yang ditimbulkan begitu luar biasa. Artinya, bahwa pemerintah harus serius dalam menangani seluruh persoalan yang ada di masyarakat. Jangan hanya karena persoalan yang notabenenya bisa diatasi, namun malah berujung pada sebuah tragedi merenggut nyawa. 

Fakta di atas juga menjadi PR besar pemerintah untuk menuntaskan persoalan kemiskinan yang terus saja ada di negeri ini. Padahal kita dapat melihat dari berita yang beredar sejak dahulu sampai sekarang masalah kemiskinan selalu saja ada dan belum bisa diuraikan. Ini yang menjadi tanda tanya besar juga bagi penulis. Mengapa kemiskinan terus saja ada dan tidak berkurang secara riil di masyarakat? Mungkin kalau data BPS atau yang lain telah menunjukkan bahwa angka kemiskinan menurun, namun ketika turun langsung di lapangan akan beda hasilnya.

Inilah yang menjadi catatan tebal bagi pemerintah kita, harus mampu mencari akar persolan kemiskinan ini. Padahal berbagai program sudah digulirkan untuk mengurangi angka kemiskinan. Namun fakta menunjukkan bahwa program yang ada belum mampu menuntaskan persoalan kemiskinan ini. Artinya, program yang dijalankan tentunya belum menyentuh akar persoalan sebenarnya. 

Menilik persolan kemiskinan bahwa masalah tersebut nyatanya muncul akibat dari penerapan sistem yang ada saat ini. Kapitalisme liberal membuat pemerintah sebatas menjadi regulator saja. Ri'ayah dan perlindungan nyata tampaknya begitu jauh. Pemerintah hanya mampu menjadi fasilitator bagi para pemegang modal besar untuk mengeksploitasi berbagai SDA di negeri ini. Padahal jika negara dalam hal ini pemerintah mampu untuk mengelolanya dengan maksimal maka dapat digunakan untuk kemaslahatan umat. Nah, kenyataan tidak seperti itu di alam kapitalisme siapa yang berkuasa dan mempunyai modal maka ia mampu menguasai hajat hidup orang banyak. Termasuk mampu mengelola SDA di negeri ini. 

Inilah yang kemudian menjadi salah satu akar penyebab kemiskinan yang ada di negeri ini. Karena sejatinya, kemiskinan yang ada tercipta karena sistem yang diterapkan. Jadi, yang ada benar-benar miskin secara sistematis sehingga sulit keluar dari lingkungan yang sudah ada. 

Hal ini akan berbeda ketika Islam hadir dalam kehidupan manusia. Bahwa pemerintah yang ada adalah orang-orang pilihan yang dengan panggilan keimanan penuh untuk menjalankan amanah di pundaknya. Termasuk melaksanakan secara keseluruhan hukum syara' dalam kehidupan manusia. Artinya, bahwa segala sesuatunya harus terikat dengan Islam. Tolok ukurnya hanya pada Islam saja, bukan pada kepentingan dan manfaat. Sehingga nuansa yang muncul adalah bagaimana menjalankan roda pemerintahan untuk selalu tunduk pada hukum Allah saja dan melakukan ri'ayah kepada masyarakat sehingga tercipta kemaslahatan umat. Itu yang menjadi kunci dan harus benar-benar dilakukan. 

Berbagai SDA yang ada juga akan dikelola dengan baik sesuai dengan kepemilikannya. Jika termasuk kepemilikan umum, maka akan dikelola secara sungguh-sungguh oleh negara untuk kemudian dikembalikan  hasilnya kepada masyarakat seluruhnya. Inilah yang kemudian menjadi modal pertama untuk meriayah masyarakat. Sebagaimana hadis Nabi saw.

"Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air, dan api." (HR. Abu Dawud)

Berkaitan dengan ketiga hal yang disebutkan pada hadis di atas, maka wajib negara mengelolanya secara penuh. Tidak boleh diserahkan kepada pihak swasta baik individu atau kelompok (dalam ataupun luar negeri). Sehingga ini dapat didistribusikan hasilnya secara penuh kepada masyarakat. Misalnya pendidikan dan kesehatan gratis, pembangunan tempat umum, serta yang lainnya. 

Perihal tentang pendidikan gratis tadi, berarti negara harus menyediakan mulai dari bangunan, guru, akses, dan yang berkaitan dengan pendidikan semuanya harus dipenuhi. Termasuk pula diberikan peralatan seolah secara cuma-cuma kepada seluruh siswa yang mau belajar menjadi salah satunya. Sehingga masyarakat tidak memikirkan lagi untuk hal-hal lain, mereka hanya fokus pada menuntut ilmu islam dan yang lainnya yang diperlukan sesuai jenjang umur. Dengan begitu, orang tua tidak akan pusing lagi memikirkan biaya sekolah anaknya. Karena negara benar-benar memberikan fasilitas lengkap di sana. Perpustakaan dan laboratorium juga diberikan peralatan yang lengkap dan mutakhir. Agar para siswa tidak ketinggalan jaman lagi. 

Gambaran di atas adalah wujud keterlibatan secara penuh negara dalam hal ini pemerintah yang benar-benar mengurus masalah umat. Ketika Islam diterapkan secara sempurna pastinya kemudahan serta keberkahan akan selalu ada. Termasuk pula rida Allah akan didapatkan. Wallahu'alam bisshawab.[AR]


Posting Komentar

0 Komentar