Subscribe Us

KEHIDUPAN REMAJA SEKULER DAN TELADAN REMAJA DI MASA RASULULLAH

Oleh Salsabila
(Aktivis Muslimah)

Vivisualiterasi.com-Pergaulan memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian remaja. Di era modern, banyak remaja terjerumus dalam gaya hidup yang tidak sesuai dengan pandangan Islam, seperti pergaulan bebas, pacaran tanpa batas syariat, serta budaya hedonis yang mengutamakan kesenangan dunia. Islam dengan tegas melarang segala bentuk perbuatan yang mendekati zina, sebagaimana firman Allah Swt:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)

Islam juga memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga pandangan dan kehormatan diri (QS. An-Nūr: 30–31). Namun dalam praktiknya, banyak remaja mengabaikan batasan ini sehingga nilai malu (ḥayā’) yang merupakan bagian dari iman semakin memudar.

Sejarah Islam justru memperlihatkan gambaran yang sangat kontras melalui kegemilangan peran remaja di masa sahabat Rasulullah ﷺ. ‘Ali bin Abi Thalib r.a., Usamah bin Zaid r.a., Mus‘ab bin ‘Umair r.a., Zaid bin Tsabit r.a., dan Abdullah bin Abbas r.a. adalah contoh remaja yang diarahkan potensinya untuk iman, ilmu, kepemimpinan, dan dakwah. Mereka membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkontribusi besar bagi agama dan peradaban.

Analisis Pergaulan Remaja dalam Perspektif Islam

Fenomena pergaulan remaja saat ini menunjukkan pergeseran nilai yang cukup serius. Hubungan bebas antara lawan jenis, normalisasi pacaran, serta gaya hidup hedonis sering dianggap wajar dan bahkan menjadi standar sosial. Dalam analisis Islam, kondisi ini bukan sekadar masalah moral individual, melainkan krisis orientasi hidup: remaja kehilangan tujuan akhir (ghāyah al-ḥayāh) yaitu beribadah kepada Allah.
Allah Swt berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ketika tujuan hidup bergeser dari ibadah menuju pemuasan hawa nafsu, maka batasan syariat dianggap sebagai penghalang kebebasan. Inilah yang menyebabkan larangan-larangan Islam dipandang kaku, padahal hakikatnya adalah penjagaan martabat manusia.

Islam melarang bukan hanya perbuatan zina, tetapi juga segala jalan yang mengantarkannya. Larangan ini bersifat preventif, bukan represif:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Kata “lā taqrabū” (jangan mendekati) menunjukkan bahwa Islam menutup seluruh celah yang dapat mengarah kepada kerusakan moral, termasuk pacaran bebas, khalwat, dan interaksi tanpa adab.
Selain itu, hilangnya rasa malu (ḥayā’) pada remaja merupakan indikator melemahnya iman. Rasulullah bersabda:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Malu itu adalah bagian dari iman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perbandingan dengan Remaja di Masa Sahabat Rasulullah

Berbeda dengan kondisi saat ini, remaja di masa Rasulullah tumbuh dalam sistem pembinaan iman yang kuat. Mereka tidak dibiarkan larut dalam pencarian jati diri tanpa arah, tetapi diberi amanah besar sesuai kapasitasnya. Usamah bin Zaid r.a. diangkat sebagai panglima perang di usia sangat muda, Zaid bin Tsabit r.a. dipercaya sebagai penulis wahyu, dan Mus‘ab bin ‘Umair r.a. menjadi duta dakwah ke Madinah.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang remaja sebagai aset peradaban, bukan fase bermain tanpa tanggung jawab. Rasulullah bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah… salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup 

Dengan demikian, permasalahan pergaulan remaja saat ini harus dipahami secara komprehensif. Islam tidak mengekang potensi remaja, justru mengarahkannya agar tidak rusak oleh hawa nafsu dan pengaruh negatif zaman. Jika remaja Muslim mampu meneladani kegemilangan sahabat Rasulullah dan kembali menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, maka masa muda tidak akan menjadi sumber kerusakan, melainkan sumber perubahan dan kebangkitan umat.[Irw]

Posting Komentar

0 Komentar