Oleh Ika Fibriani, S.Pd.I
(Pendidik dan Aktivis Islam)
Vivisualiterasi.com - Sistem kapitalisme dan sekulerisme saat ini membagi perbedaan generasi dengan penamaan yang berbeda. Hal ini selalu dimasifkan di tengah masyarakat, sehingga masyarakat makin terbiasa dengan perbedaan penamaan tersebut. Apakah dengan penamaan tersebut banyak mendapatkan perubahan positif, terutama pada perubahan karakter anak bangsa?
Penamaan itu bisa terjadi karena masyarakat saat ini membutuhkan informasi dengan cepat, dan teknologi membuat generasi makin mempercayainya. Sehingga algoritma sistem membuat alat kekuasaan dan pemasaran yang cepat, yang membuat setiap generasi akan cepat mengikuti perkembangan zaman.
Ada generasi baby boomers yang mungkin bisa dikatakan tidak tahu apa-apa tentang teknologi, sehingga mereka banyak ketinggalan hal-hal penting. Generasi milenial yang selalu merasa memiliki idealisme, bisa ada dalam banyak perubahan, dan merasa baik-baik saja dengan teknologi canggih. Bagaimana dengan generasi Gen Z?
Mereka banyak menemukan hal-hal baru; setiap keinginannya akan bisa mudah didapatkan dengan teknologi canggih. Teknologi sudah menjadi kebutuhan yang mendasar bagi generasi Z. Internet dan media sosial mudah diakses. Engagement pasar membuat mereka menjadi individualis, konsumtif, dan bahkan apatis terhadap suatu permasalahan sosial, karena generasi Z lebih banyak mencari like dan view. Algoritma membuat generasi Z betah berlama-lama menggunakan ponsel pintar.
Namun, perubahan yang didapat bukan hanya dari sisi positif; banyak sisi negatif yang berdampak pada generasi muda. Mereka abai terhadap keluarga, pasif terhadap masalah sosial, merasa tidak aman diri, dan kurangnya kontrol emosi. Bahkan tindakan kriminal banyak dilakukan oleh generasi muda melalui digitalisasi, seperti pinjaman online, judi online, pembullyan, perdagangan narkoba, hingga perdagangan organ tubuh lewat dunia maya. Pencapaian kebahagiaan dunia tentu saja dinomorsatukan. Kehidupan ala Barat lebih mendominasi kalangan generasi muda.
Arah generasi muda tentang perubahan yang mendasar mengenai Islam kian tergerus dan makin hilang. Mereka seakan tenggelam dengan dunia digitalisasi. Standar kelayakan hidup mereka hanya berorientasi materi; kredibilitas ilmu hanya digunakan pada pencapaian kekuasaan, dan bila perlu, hidup hedonisme masuk ke dalam daftar sumber kelayakan hidup generasi muda.
Cara berpikir cepat dengan mengakses berbagai platform membuat generasi makin masif untuk tidak berpikir kritis dan tidak bersinergi terhadap acuan masalah yang sedang terjadi. Sehingga banyak perubahan karakter pada generasi yang akan sulit menuju pada perubahan yang hakiki, yaitu perubahan menuju Islam kaffah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Metode kenabian dalam membina umat dari tua hingga muda; ia akan terus membina umat dengan berbagai cara sesuai dengan generasi masing-masing.
Bila segolongan generasi muda yang menyerukan kepada kebaikan akan dilabeli "cupu", "Islam ketinggalan zaman", bahkan "teroris". Narasi itu tidak serta-merta muncul begitu saja tanpa ada pembuat pemaknaan yang terkandung di dalamnya, yang membuat generasi muda tidak memahami makna spiritual. Mereka adalah sasaran konsumerisme terbesar oligarki.
QS. Ali 'Imran · Ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali 'Imran · Ayat 104)
Sistem sekuler banyak merusak karakter manusia, terutama generasi muda. Mereka membawa perubahan pemikiran negatif; Barat sebagai negeri pembawa sekularisme selalu berupaya agar Islam tidak tegak di muka bumi ini. Maka dari itu, propaganda dibuat oleh Barat dengan merusak generasi mudanya. Mereka tahu kemenangan Islam juga akan diraih oleh generasi muda, sehingga dengan megaproyek mereka mencoba menggeneralisasikan pemikiran bahwa Islam harus disesuaikan dengan hukum Barat agar dinormalisasikan di kalangan pemuda.
GENERASI MEMBAWA PERUBAHAN, BUKAN ADANYA GAP GENERASI
Ketika generasi milenial hidup dalam berbagai perubahan, mereka merasa harus saling mengingatkan generasi muda dan merasa banyak mengetahui segala sesuatu karena banyak melewati masa perkembangan berbagai teknologi. Banyak yang memberikan nasihat dan nilai-nilai moral dengan selalu mengambil nilai sejarah dan nilai tradisi. Namun tidak semuanya bisa dimengerti dan diambil oleh generasi muda saat ini. Generasi muda merasa hal yang dilakukan itu sesuatu yang kuno, kolot, dan ketinggalan zaman. Mereka banyak yang tidak menerima saran dan nasihat; hal ini membuat kesenjangan (gap) di antara generasi milenial dan generasi Z yang selalu berbenturan perihal pendapat, baik dalam hal ekonomi, pola asuh anak, kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Kebutuhan generasi Gen Z didasarkan pada manfaat yang selalu berpikir dalam pembangunannya adalah materi. Mereka akan menghilangkan dan bahkan mengabaikan nilai-nilai moral dan syariat Islam sebagai pedoman hidup bila tidak sesuai dengan perkembangan zaman.
Generasi milenial hanya bisa berpasrah kepada perubahan zaman yang terjadi karena tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman. Banyak generasi milenial juga mengambil kesempatan perubahan teknologi di tengah mereka. Mereka belajar pola asuh anak dari internet, belajar memasak atau kesehatan, dan sebagainya, serta cara memesan kebutuhan sehari-hari lewat ponsel pintar. Sehingga mereka lupa akan peran mereka, yaitu menghidupkan kembali karakter pemuda yang selalu bernorma Islam. Seperti saat ini, tidak sedikit pula ibu-ibu yang menyerahkan pola asuh anaknya atau cucunya pada internet, berteman lewat media sosial, sehingga melupakan peran ibu sebagai madrasatul ula.
DUA GENERASI MEMBAWA PERUBAHAN ISLAM HAKIKI
Sistem kufur saat ini banyak merusak pemikiran kaum muslim, membuat kaum muslim lupa perannya sebagai agen perubahan peradaban menuju Islam kaffah. Dalam pandangan Islam, sistem yang rusak harus dihapuskan dan dicampakkan. Sebagai generasi muda ataupun generasi milenial, harus saling bersama menjaga karakter Islam. Tidak adanya penamaan generasi baby boomers, generasi milenial, atau generasi Gen Z dalam Islam; Islam tidak mengenal gap generasi. Justru antar generasi tersambung satu amanah bahwa fondasi hidup, standar kesuksesan, dan amanah yang wajib diperjuangkan adalah Islam. Dengan demikian, generasi muda akan siap menjadi pelopor perubahan dunia dan generasi milenial berperan penting di dalamnya.
Hal ini untuk mewujudkan perubahan hakiki: generasi muda harus mengikuti pembinaan intensif Islam kaffah, menyuarakan ideologi Islam dan sistem syariat Islam sebagai solusi dunia, serta menyatukan pergerakan bersama para pendakwah, sekalipun sudah berstatus sebagai ibu-ibu. Hal ini lebih fokus memperjuangkan Islam kaffah yang sesungguhnya; DNA generasi muda adalah DNA pejuang risalah Nabi SAW. Wallahu Salam bi ash-Shawab.
(Dft)


0 Komentar