(Aktivis Dakwah Nisa Morowali)
Sementara itu, menurut CNN Indonesia (11/09/2025), Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) mencatat 746.000 kematian akibat bunuh diri di dunia, dengan 4.750 kasus disumbangkan oleh Indonesia. Terjadi peningkatan sekitar 100 kasus pada tahun 2024 dibanding tahun sebelumnya. Imran Pambudi, selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, mengimbau masyarakat agar bijak dalam menerima informasi terkait kasus bunuh diri karena hal ini dapat menular.
Kesehatan mental tidak hanya berkontribusi terhadap angka bunuh diri, tetapi juga berdampak pada meningkatnya kondisi kecemasan. Screening kesehatan jiwa yang dilakukan sejak Februari 2025 terhadap 13 juta warga Indonesia menunjukkan bahwa depresi dan kecemasan menjadi masalah mental terbanyak. Imran juga mengimbau masyarakat untuk mengakses layanan konseling gratis melalui situs healing119.id yang bisa diakses 24 jam. Faktanya, sebagian besar pengguna layanan tersebut adalah perempuan, terutama yang berusia 21–30 tahun. Pemerintah Kota Palu pun mulai memperkuat layanan psikologis di puskesmas untuk menjawab meningkatnya gangguan mental di masyarakat (Antara Sulteng, 2025).
Kondisi dunia yang bergejolak, tekanan ekonomi, disrupsi teknologi, perang, dan ketidakpastian masa depan memperparah stres kolektif serta krisis identitas manusia modern.
Kesehatan Mental dan Kondisi Masyarakat
Sejarah kesehatan mental sejak masa sebelum Masehi hingga kini mengalami pergeseran makna yang signifikan, dari pandangan mistis menuju pemahaman ilmiah yang lebih manusiawi dan berbasis hak asasi. Mental yang sehat berarti seimbangnya kondisi emosi, pikiran, dan perilaku, sehingga seseorang mampu hidup bermakna dan berkualitas.
Kompleksnya, kehidupan saat ini menuntut kemampuan untuk mengurai benang kusut permasalahan yang dihadapi. Tak sedikit masyarakat yang memilih menyerah menghadapi kegetiran hidup, bukan hanya kalangan dewasa, tetapi juga anak muda.
Anak muda hari ini dituntut untuk terus berlari mengejar kesuksesan versi pasar kapitalis. Namun, banyak di antara mereka yang justru merasa kosong, tertekan, dan kehilangan arah. Masa muda merupakan fase pertumbuhan yang membutuhkan perhatian, dukungan, dan solusi, terutama dari keluarga sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan mental dan spiritual.
Wajar jika remaja mengalami beragam emosi seperti marah, kecewa, atau sedih. Perasaan tersebut tidak bisa ditolak, melainkan perlu dihadapi. Seseorang yang mengalami emosi semacam ini bukan berarti kurang iman, melainkan sedang melalui proses pendewasaan, di mana iman berperan sebagai penjaga agar tetap bijaksana dalam menghadapi kehidupan.
Namun, bagaimana iman dapat tumbuh jika seseorang disibukkan dengan aktivitas duniawi hingga tak punya waktu mempelajari agama? Iman akan tumbuh subur hanya bila disirami dengan ilmu dan pengamalan syariat.
Kapitalisme yang bersekutu dengan sekularisme telah melahirkan individu yang menjadikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan. Akibatnya, ketika seseorang mengalami tekanan hidup, ia kehilangan sandaran sosial maupun spiritual yang kokoh. Ditambah lagi, media sosial kini menjadi pelarian yang menyesatkan, menghadirkan ilusi kebahagiaan lewat budaya flexing. Akibatnya, standar bahagia dan sukses diukur dari kemewahan duniawi.
Setiap individu memiliki kondisi ekonomi berbeda. Perbedaan kemampuan ekonomi ini menciptakan kesenjangan sosial yang makin lebar. Gaya hidup hedonistik yang ditampilkan di media sosial mendorong banyak orang untuk meniru, terutama bila lingkungan sosialnya serupa. Apa yang sering dilihat dan dikonsumsi memengaruhi cara berpikir dan mengambil keputusan.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja banyak orang harus berjuang keras. Sulitnya lapangan pekerjaan, mahalnya harga kebutuhan, serta tekanan ekonomi membuat banyak orang terpuruk. Kondisi ini jelas berkaitan erat dengan kesehatan mental.
Layanan konsultasi psikologis sejatinya hanya menyelesaikan “gejala” tanpa menyentuh akar masalah. Kapitalisme menciptakan jurang kaya–miskin yang makin lebar, memperparah stres dan kecemasan sosial. Sistem sosial yang individualistik dan hedonistik turut mengikis atmosfer keimanan dan mengeringkan hubungan sosial di masyarakat.
Solusi Hakiki
Ketika seseorang memahami tujuan hidupnya, maka ia akan fokus menapaki jalan menuju tujuan tersebut. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:
> ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِÙ†ْسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Sejatinya, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah Swt. Karena itu, pilihan-pilihan hidup seharusnya mengantarkan pada ketaatan kepada-Nya. Dengan orientasi ini, manusia tidak menilai dirinya dari capaian materi, melainkan dari sejauh mana ia meraih rida Allah Swt.
Islam menjaga kesehatan mental dengan membangun hubungan spiritual yang kuat. Shalat, zikir, tilawah, dan doa adalah terapi ruhani yang menenangkan jiwa.
> الَّذِينَ آمَÙ†ُوا ÙˆَتَØ·ْÙ…َئِÙ†ُّ Ù‚ُÙ„ُوبُÙ‡ُÙ…ْ بِذِÙƒْرِ اللَّÙ‡ِ ۗ Ø£َÙ„َا بِذِÙƒْرِ اللَّÙ‡ِ تَØ·ْÙ…َئِÙ†ُّ الْÙ‚ُÙ„ُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Islam memiliki pandangan komprehensif terhadap kesehatan mental. Akidah Islam dijadikan dasar pembentuk kesadaran individu maupun kolektif. Kedisiplinan dalam penegakan hukum lahir dari keyakinan bahwa setiap pelanggaran, sekecil apa pun, adalah dosa dan maksiat.
Negara dalam sistem Islam berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan, sekaligus menyediakan lapangan pekerjaan yang layak guna mencegah tekanan ekonomi ekstrem. Pemimpin Islam memandang rakyat sebagai amanah yang harus dijaga kesejahteraannya.
Islam juga menekankan pentingnya pembinaan mental melalui pendidikan tsaqafah, akidah, dan hukum syarak di seluruh lapisan masyarakat. Pembinaan ini dapat dilakukan melalui berbagai sarana seperti media sosial, televisi, koran, majalah, dan majelis ilmu di masjid.
Mentalitas yang sehat akan melahirkan masyarakat yang sehat, baik secara spiritual maupun sosial. Dengan demikian, krisis kesehatan mental dapat teratasi secara menyeluruh, bukan sekadar simptomatik. Wallahu a‘lam bish-shawab.[PUT]


0 Komentar