Subscribe Us

AL-AQSA DI AMBANG KEHANCURAN, MASIHKAH BERDIAM ATAS KEZALIMAN? 


Oleh Miladiah Al-Qibthiyah
(Aktivis Muslimah DIY)


Vivisualiterasi.com - Masjid Al-Aqsa kini berdiri di ambang kehancuran. Retakan dan rongga besar muncul di fondasinya akibat penggalian bawah tanah oleh otoritas Israel. Di atas tanah yang menjadi saksi isra mikraj Rasulullah saw. itu, suara mesin bor terus menggema, mengguncang tiang-tiang tua yang menopang kehormatan umat Islam. Dunia boleh menyebutnya riset arkeologi, tapi bagi kaum muslim, itu rumah Allah yang sedang dikerat pelan-pelan.

Ancaman runtuhnya Al-Aqsa bukan sekadar bencana struktural, melainkan simbol kehancuran martabat umat Islam. Ketika batu-batu suci itu mulai retak, yang sebenarnya retak adalah rasa kepemilikan dan keberanian umat yang dahulu pernah mengguncang dunia. Israel paham, mereka tak perlu meledakkan masjid dengan bom. Akan tetapi, cukup dengan “penggalian ilmiah” yang dibungkus proyek sejarah. Sementara itu umat Islam sibuk berdebat soal siapa yang harus peduli.

Islam memandang penjagaan masjid sebagai kewajiban mulia. Rasulullah saw. bersabda, 

Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Nabawi), dan Masjid Al-Aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Maka, membiarkan Al-Aqsa roboh tanpa upaya nyata sama saja menodai sabda nabi saw. sendiri. Ini bukan sekadar bangunan, melainkan amanah yang akan ditanya di hadapan Allah kelak.

Kiblat Pertama Umat Islam

Masjid Al-Aqsa adalah tempat di mana arah pertama umat Islam menghadap sebelum Allah memerintahkan berpaling ke Kakbah. Ia adalah titik awal perjalanan spiritual umat yang menandai ketaatan total kepada wahyu, bahkan ketika arah salat harus berubah. Karena itu, setiap inci tanah Al-Aqsa memiliki makna historis yang tak tergantikan oleh bangunan mana pun di dunia.

Namun, dalam hiruk-pikuk politik modern, Al-Aqsa hanya disebut ketika ada serangan di Gaza. Kesuciannya direduksi menjadi isu musiman. Umat Islam melupakan bahwa kiblat pertama ini adalah simbol kesatuan akidah para nabi, dari Ibrahim, Musa, Isa hingga Muhammad saw. Ketika Al-Aqsa diabaikan, yang hilang bukan hanya status suci, tetapi juga kesinambungan iman dan sejarah yang menyatukan umat di bawah satu risalah.

Dalam Islam, kehormatan Al-Aqsa adalah bagian dari identitas tauhid. Melindunginya bukan urusan Palestina semata, melainkan tanggung jawab umat di seluruh penjuru dunia. Maka, setiap muslim yang diam ketika Al-Aqsa direndahkan sejatinya sedang ikut merendahkan arah sujudnya sendiri.

Upaya Menguasai Al-Aqsa

Israel telah lama menanam proyek penguasaan ideologis atas Yerusalem. Dengan dalih menggali sisa “Kuil Sulaiman”, mereka perlahan menyingkirkan simbol-simbol Islam dari kawasan Al-Aqsa. Penggalian bawah tanah bukan sekadar proyek arkeologi, melainkan strategi geopolitik untuk menghapus identitas Islam dari peta sejarah Palestina. Mereka ingin dunia percaya bahwa tanah para nabi itu tak pernah memiliki akar Islam.

Ini bukan hal baru. Sejak 1967, Zionisme telah menjadikan Baitul Maqdis sebagai panggung untuk meneguhkan klaim teologis mereka. Setiap batu yang mereka gali, setiap reruntuhan yang mereka tunjukkan pada dunia, adalah propaganda untuk menanamkan narasi “Israel kuno”, yakni narasi yang menafikan eksistensi Islam. Sementara itu, lembaga dunia hanya menulis laporan, tanpa tindakan nyata.

Dalam pandangan Islam, penguasaan atas tanah suci tidak bisa dihadapi dengan diplomasi, tetapi dengan kekuasaan yang menegakkan kebenaran. Nabi saw. membebaskan Makkah bukan lewat perundingan, tetapi dengan kekuatan yang tunduk pada wahyu. Begitu pula Al-Aqsa hanya akan aman bila dilindungi oleh kepemimpinan Islam yang berani mengembalikan kehormatan umat di atas landasan syariat, bukan kepentingan politik sesaat.

Lemahnya Dunia Islam

Yang paling menyayat bukanlah tindakan Israel, tetapi kebekuan umat Islam sendiri. Dunia Islam lebih sibuk dengan pertemuan ekonomi dan isu gaya hidup ketimbang membela rumah Allah yang terancam roboh. Negara-negara Arab berlomba menormalisasi hubungan dengan penjajah yang justru menginjak tanah suci mereka. PBB berdebat, OIC berpidato, tetapi Al-Aqsa terus retak dan menunggu ambruk.

Inilah cermin kelemahan politik umat. Sejak kekuasaan Islam tercerai-berai, suara kaum muslim tak lagi menggema dalam satu komando. Padahal dahulu, ketika Shalahuddin Al-Ayyubi mendengar kabar bahwa Al-Aqsa dinodai, ia menangis, bukan karena lemahnya pasukan, tetapi karena merasa belum pantas menghadap Allah sebelum menebus kehormatan Baitul Maqdis. Kini, kita menangis hanya saat melihat berita, lalu melanjutkan hidup seperti biasa.

Islam menolak sikap diam terhadap kezaliman. Allah berfirman:

Dan janganlah kamu mengira Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (TQS. Ibrahim: 42)

Namun, peringatan ini tak berarti Allah akan bertindak jika hamba-Nya sendiri enggan bergerak. Kebangkitan hanya lahir dari mereka yang penuh dedikasi perjuangan, bukan sekadar simpati.

Seruan untuk Dunia Islam

Dari tanah yang terjajah, suara umat Islam terus menggema. Mereka menyeru dunia Islam agar bangkit melindungi Al-Aqsa. Bagi mereka, setiap retakan di dinding masjid adalah pesan langit yang menuntut persatuan. Namun, suara itu sering ditenggelamkan oleh agenda dunia modern dan diplomasi kosong.

Seruan ini semestinya menggetarkan hati umat Islam, karena Al-Aqsa bukan simbol lokal, melainkan cermin keimanan global. Jika umat Islam gagal melindunginya, itu berarti mereka gagal memahami makna persaudaraan sejati. Sebab di hadapan Allah, pembelaan terhadap masjid-Nya bukan pilihan, tetapi ujian siapa yang benar-benar teguh dalam keimanan.

Solusi bagi Al-Aqsa tidak bisa berhenti pada kecaman, bantuan kemanusiaan, atau doa bersama. Islam telah memberi jalan, yaitu hadirnya kepemimpinan tunggal yang menegakkan syariat dan mempersatukan kekuatan umat. Tidak lain adalah Khilafah Islamiah. Seperti Umar bin Khattab yang datang bukan dengan proposal damai, tetapi dengan kunci keadilan yang membebaskan seluruh penduduk Yerusalem dari penindasan. Sungguh Al-Aqsa akan bebas ketika kekuasaan Islam kembali tegak.

Khatimah

Masjid Al-Aqsa sedang menanti, tetapi yang dinanti bukan dan wacana, melainkan sikap keberanian dunia Islam. Ketika batu-batunya runtuh, sejarah akan mencatat bukan hanya kejahatan Israel, tetapi juga kelalaian umat yang diam. Jika umat Islam ingin memulihkan kehormatannya, mulailah dari sana, dari tanah suci tempat Allah memperlihatkan keajaiban isra mikraj, sebab dari sanalah pula kebangkitan pernah bermula. Wallahu a'lam bi ash-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar