Oleh Audina Putri
(Aktivis Dakwah Remaja)
Vivisualiterasi.com - Gaza bukan sekadar titik di peta, ia adalah ladang penderitaan manusia yang setiap hari terus menambah korban jiwa. Sekarang, penderitaannya semakin parah, berubah menjadi kelaparan massal, listrik padam, rumah-rumah hancur, dan anak-anak yang kehilangan masa kecil mereka.
Persediaan makanan dan bahan bakar di wilayah utara nyaris habis setelah akses bantuan dihancurkan Zionis. PBB hanya memperingatkan bahwa kondisi ini bisa saja berubah menjadi bencana yang lebih mencekam.
Puluhan ribu jiwa tak berdosa telah menjadi korban dalam konflik yang berkepanjangan. Jutaan rakyat terus-menerus dipaksa mengungsi, hengkang dari tanahnya sendiri, dan sistem kesehatan terkendala peralatan.
Rumah sakit berjuang dengan fasilitas seadanya, pasien kritis terancam nyawanya, laporan tentang perlunya kantong darah serta obat-obatan hanya mengudara tanpa jelas kapan bantuan akan tiba.
Kemarahan seluruh dunia telah menggelora. Mereka muak terhadap ketidakadilan para penguasa. Kecaman, umpatan, aksi boikot internasional, dan segalanya telah dicoba, masih tidak bisa membuat gentar Zionis dan sekutunya. Mereka malah merasa jumawa di atas teriakan dan tangisan penduduk Gaza.
Sementara itu, PBB dan beberapa negara lainnya mengatakan akan segera mengakui kemerdekaan Palestina. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) juga telah mengeluarkan surat putusan yang membatasi langkah Netanyahu untuk pergi bebas dengan aman ke negara lain.
(Bbc.com, 16/09/2025)
Berbagai kecaman tidak menyurutkan keinginan Zionis untuk menguasai Palestina, karena jelas tujuan mereka adalah mendirikan negara yang pusatnya di Palestina. Itulah sebabnya mereka begitu semangat menghabisi sisa-sisa kehidupan di Gaza. Mereka juga didukung oleh negara adidaya nomor satu di dunia, yang sudah sangat jelas bagaimana kekuatan dan pengaruhnya.
Mereka tak akan mempan dikecam, karena di balik setiap peluru yang mereka tembakkan ada bantuan Amerika yang menopang. Mereka bukan sekadar sekutu, melainkan sahabat setia yang selalu ada, dari menyuplai senjata, dana, hingga tameng politik di forum internasional dunia.
Selama mereka yang berkuasa, keadilan tak lebih dari fatamorgana, dan perdamaian hanyalah sandiwara yang dipentaskan di atas darah para syuhada Palestina. Dunia dibuai oleh diplomasi manis solusi dua negara, tetapi nyatanya itu semua hanya topeng untuk menutupi niat busuk mereka.
Solusi dua negara hanyalah fatamorgana di padang pasir nestapa. Bagaimana mungkin ada perdamaian bila tanah Palestina terus digerus, rumah-rumah dihancurkan, pemukiman ilegal tumbuh bak jamur di musim hujan?
Sementara peluru mereka berani menembus rumah sakit dan membungkam para jurnalis. Ini bukanlah jalan damai, melainkan jalan licik yang dengan perlahan akan memusnahkan Palestina.
Israel juga tak pernah benar-benar menerima gagasan dua negara. Mereka hanya menggunakannya sebagai topeng di hadapan dunia, sedangkan di Gaza mereka merampas harapan dan membuat genosida.
Berbeda dengan kisah mulia di masa Daulah masih berjaya. Ketika Theodor Herzl datang dengan tawaran harta yang banyak demi bisa membeli sepetak tanah Palestina, Sultan Abdulhamid II menolaknya.
Dengan tegas ia berkata bahwa tanah ini bukanlah miliknya, bukan juga tanah yang diperjualbelikan, melainkan amanah umat Islam yang akan dijaga hingga titik darah penghabisan.
Beliau adalah pemimpin yang amanah, tegas, dan mendahulukan segala kepentingan umat di atas segalanya. Ia menolak kompromi dengan musuh-musuh Islam.
Berbanding terbalik dengan kepemimpinan masa kini yang sibuk menukar martabat dengan kepentingan atau sibuk mengambil muka di meja perundingan.
Maka jelaslah, solusi dua negara bukanlah jawaban, melainkan jebakan. Jalan keadilan bukan dengan membagi tanah warisan umat, melainkan mengembalikannya utuh pada pemiliknya yang sah.
Jangan biarkan Palestina dijual dengan harga murah. Jangan biarkan darah para syuhada ditimbun dan dihapus dari peta. Jangan biarkan bumi suci itu kotor akibat jejak-jejak kaki manusia yang haus akan kuasa.
Sejarah telah menunjukkan, hanya Islam yang pernah menghadirkan keadilan tanpa pilah-pilih, melindungi yang lemah, dan sudah ratusan tahun terbukti mampu menjaga kehormatan tanah suci.
Di bawah naungan kepemimpinan yang berlandaskan syariat, manusia hidup dalam bingkai negara Islam yang tidak membedakan warna kulit atau asal suku. Masih banyak bukti nyata bahwa Islam bukan ancaman bagi perdamaian, melainkan satu-satunya jalan yang mampu menghadirkannya.
Karena itu, solusi dua negara adalah solusi yang rapuh, bukan pula kesepakatan di atas meja yang timpang. Solusi sejati adalah kembali pada sistem Islam yang bisa menyatukan umat, menegakkan hukum Allah, dan mengembalikan kemuliaan tanah Palestina. Hanya dengan itu, bumi akan benar-benar damai, sejarah akan kembali mengulang kegemilangannya, dan dunia akan merasakan keadilan yang tak pernah bisa dibeli dengan harta.
Wallahu a‘lam bissawab.[Irw]


0 Komentar