Subscribe Us

DERITA GAZA MENUNTUT SOLUSI ISLAM HAKIKI



Oleh Miladiah Al-Qibthiyah
(Aktivis Muslimah Sleman, DIY)


Vivisualiterasi.com - Tragedi kemanusiaan di Gaza kian hari kian menyesakkan dada. Serangan yang dilancarkan Israel semakin masif, menargetkan kota-kota, rumah-rumah, bahkan tempat pengungsian yang seharusnya menjadi zona aman. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan telah memerintahkan pasukan untuk merebut penuh Kota Gaza, sambil mendesak warga sipil mengungsi tanpa jaminan keselamatan (Republika, 2025). 

Dalam waktu yang hampir bersamaan, dunia internasional menyaksikan konvoi Sumud Flotilla, sebuah armada bantuan dari berbagai negara yang mencoba menembus blokade laut untuk membawa suplai ke Gaza (RRI, 2025). Fakta ini menegaskan dua hal: pertama, bahwa kejahatan Zionis terus meningkat; kedua, bahwa nurani kemanusiaan dunia tidak sepenuhnya mati. Namun, di tengah semua ini, kita juga menyaksikan pengkhianatan penguasa Arab yang abai terhadap penderitaan saudaranya, serta diamnya kekuatan dunia yang semakin memperlebar ruang bagi Zionis untuk bertindak sewenang-wenang.

Bantuan Kemanusiaan Penting, Tapi Belum Cukup

Kita patut mengapresiasi solidaritas masyarakat global. Gerakan penggalangan dana, konvoi flotilla, hingga kampanye publik adalah bukti bahwa banyak orang menolak menormalisasi kezaliman. Akan tetapi, kita harus jujur bahwa solusi kemanusiaan tidak cukup untuk menghentikan kejahatan Zionis. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan pakaian memang menyelamatkan sebagian nyawa, tetapi ia tidak menyentuh akar masalah, yakni keberadaan penjajahan yang terus memproduksi penderitaan. Selama sumber kezaliman tidak dicabut, maka tragedi akan terus berulang.

Di sinilah umat harus berani melangkah lebih jauh. Menyerukan hanya bantuan kemanusiaan tanpa berbicara tentang pembebasan adalah ibarat mengobati gejala tanpa menghilangkan penyakit. Akar masalah Gaza bukanlah semata kekurangan logistik, tetapi penjajahan yang dibiarkan berlangsung puluhan tahun.

Pandangan Islam atas Kezaliman

Islam menempatkan penindasan terhadap manusia sebagai perbuatan yang sangat tercela. Al-Qur’an menegaskan:

“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak, yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu!’.” (TQS. An-Nisâ’ [4]: 75)

Ayat ini jelas menegaskan bahwa menolong kaum tertindas bukan sekadar anjuran moral, melainkan kewajiban syar’i. Rasulullah saw. juga bersabda:

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dizalimi).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Islam, konsep ukhuwah (persaudaraan) menuntut kita untuk tidak membiarkan saudara seiman terus disiksa tanpa pertolongan nyata. Solusi Islam atas kezaliman bukanlah sekadar bantuan sementara, tetapi penghapusan akar penjajahan melalui jihad fi sabilillah yang dipimpin oleh negara. Namun, jihad di sini bukanlah aksi sporadis individu, melainkan kewajiban kolektif (fardu kifayah) yang harus ditunaikan oleh institusi politik umat, yakni Khilafah atau negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Pengkhianatan Penguasa Arab

Sungguh memilukan ketika umat menanti bantuan dari negara-negara Arab, justru yang terjadi adalah normalisasi hubungan dengan Israel, atau sekadar retorika diplomatik tanpa aksi nyata. Padahal, mereka memiliki kekuatan militer yang besar, sumber daya energi yang melimpah, serta posisi geografis strategis yang bisa digunakan untuk menghentikan genosida. Diamnya mereka bukan sekadar kelalaian, melainkan pengkhianatan terhadap amanah Allah untuk menolong kaum muslim. Rasulullah saw. memperingatkan:

“Imam (pemimpin) itu adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim)

Ketika pemimpin umat berkhianat, umat kehilangan perisai dan akibatnya darah kaum muslim tumpah tanpa perlindungan.

Target yang Harus Dicapai

Untuk itu, umat tidak boleh berhenti pada doa dan simpati. Ada sejumlah target yang harus diperjuangkan:

Pertama, memperkuat kesadaran publik agar umat memahami bahwa penderitaan Gaza bukan masalah lokal, tetapi masalah seluruh umat Islam di dunia.

Kedua, menyeru kepada penguasa muslim agar tidak cukup hanya dengan kecaman, tetapi bergerak nyata memberikan dukungan militer dan politik.

Ketiga, mempercepat akses bantuan kemanusiaan dengan menekan pihak internasional untuk membuka koridor aman yang tidak bisa ditutup sepihak oleh Israel.

Keempat, menuntut akuntabilitas hukum melalui mekanisme internasional, meskipun kita sadar jalur ini terbatas.

Kelima, menjadikan jihad sebagai agenda umat dengan menuntut lahirnya kepemimpinan Islam yang mampu menggerakkan kekuatan militer demi membebaskan Palestina.

Khatimah

Derita Gaza adalah cermin dari lemahnya umat ini. Kejahatan Zionis semakin brutal karena merasa mendapat legitimasi dari penguasa Arab yang berkhianat dan dunia yang diam. Bantuan kemanusiaan penting, tetapi ia bukan solusi hakiki. Islam telah memberikan jalan keluar, yakni menolong yang tertindas, menegakkan keadilan, dan menghapus penjajahan dengan jihad yang dipimpin oleh negara Islam. Umat harus meningkatkan kesadarannya, dari sekadar simpati menjadi tuntutan politik dan perjuangan riil.

Allah Swt. berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (TQS. Al-Anfal [8]: 60)

Ayat ini adalah perintah untuk mempersiapkan kekuatan, bukan sekadar bersedih. Gaza mengajarkan kepada kita bahwa solusi hakiki hanyalah kembali kepada Islam kaffah yang menuntut adanya kepemimpinan yang melindungi umat, menolong tertindas, dan menghapus kezaliman. Selama umat belum menuntut solusi itu, derita Gaza akan terus berulang. Wallahu a'lam bishawab.[]


Sumber:
Republika — “Netanyahu perintahkan rebut kota Gaza; Israel desak warga mengungsi” 
https://news.republika.co.id/berita/t25pt3370/netanyahu-perintahkan-rebut-kota-gaza-israel-desak-warga-mengungsi

RRI — “Perjalanan global Sumud Flotilla: misi menantang blokade Gaza”https://rri.co.id/indepth/10590/perjalanan-global-sumud-flotilla-misi-menantang-blokade-gaza

Posting Komentar

0 Komentar