Subscribe Us

LONELY IN THE CROWD: DAMPAK BURUK MEDIA SOSIAL

Oleh Novita L., S.Pd.

(Kontributor Vivisualiterasi Media)

 Vivisualiterasi.com-Di era serba digital seperti sekarang, banyak orang merasa "terhubung" setiap saat. Notifikasi yang tak henti berbunyi, unggahan yang silih berganti, dan interaksi di media sosial yang terasa ramai membuat seolah-olah kehidupan sosial begitu hidup. Namun, ironisnya, di balik semua itu, tidak sedikit yang merasa hampa. Kesepian justru tumbuh subur di tengah lalu lintas komunikasi yang padat.

Ketika Industri dan Teknologi Menguasai Pikiran

Fenomena ini bukan sekadar isu perasaan, melainkan sebuah gejala sosial yang serius. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bahkan tertarik menelitinya lewat riset berjudul "Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual". Kajian ini menyoroti bagaimana media digital, terutama yang berbasis audiovisual, seperti TikTok, menciptakan realitas semu yang terasa lebih "nyata" dibanding kehidupan riil.

Teori hiperrealitas memang menggambarkan bagaimana media bisa membentuk persepsi palsu tentang kehidupan. Di media sosial, semua terlihat bahagia, produktif, penuh warna. Tapi kenyataannya, banyak pengguna,khususnya generasi muda mengalami krisis eksistensi, kecemasan, hingga tekanan mental yang tak terlihat. Gen Z bahkan sering disebut sebagai generasi paling kesepian, meski mereka paling aktif di media sosial. Apa yang salah?

Bukan hanya soal kurangnya literasi digital atau sekadar pemakaian gawai yang berlebihan. Lebih dalam dari itu, kita hidup dalam sistem kapitalisme digital yang mendorong gaya hidup instan, pencitraan, dan kompetisi tanpa henti. Dunia maya menjadi panggung pencapaian, bukan ruang untuk membangun hubungan yang otentik. Akibatnya, interaksi manusia jadi superfisial. Bahkan di tengah keluarga, komunikasi bisa terasa asing. Semua sibuk dengan gadget masing-masing, saling hadir secara fisik namun absen secara emosional.

Kondisi ini menimbulkan dampak yang tidak bisa dianggap remeh. Generasi muda yang seharusnya jadi agen perubahan, justru terjebak dalam lingkaran perasaan hampa, tidak percaya diri, dan krisis identitas. Potensi besar untuk berkarya terhambat oleh rasa kesepian dan kecemasan yang terus menghantui. Lebih buruk lagi, sikap individualistis ini menjauhkan mereka dari realitas sosial umat yang seharusnya mereka perjuangkan.

Melawan Arus dengan Identitas yang Kuat

Masyarakat hari ini butuh kesadaran baru. Kita harus mengakui bahwa media sosial bukanlah solusi untuk semua problem sosial. Jika tak dikelola dengan bijak, ia justru menjadi racun yang melemahkan kemampuan sosial, empati, dan kepedulian antar sesama. Kesepian digital bukan sekadar gangguan psikologis, tapi potret kegagalan sistem saat ini dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Islam menawarkan solusi mendasar untuk problem ini. Islam bukan hanya agama spiritual, tapi sistem kehidupan yang memanusiakan manusia. Dalam Islam, identitas seorang muslim terbangun dari keimanan dan keterikatannya kepada syariat. Seorang muslim tidak akan menggantungkan harga dirinya pada validasi di media sosial, tapi pada kualitas takwanya dan kontribusinya terhadap umat.

Selain itu, Islam juga mendorong masyarakat untuk saling menasihati, peduli, dan mengingatkan dalam kebaikan. Ini menjadi benteng sosial agar individu tidak larut dalam kesendirian. Islam membentuk masyarakat yang kokoh, bukan hanya secara teknologi, tetapi juga emosional dan spiritual.

Negara pun memegang peranan penting. Negara ideal menurut Islam harus mengarahkan perkembangan teknologi, termasuk media digital, agar memberi manfaat bagi umat. Bukan dibiarkan liar mengikuti pasar dan algoritma yang merusak. Negara juga wajib menciptakan iklim produktif bagi generasi muda, bukan hanya dalam hal ekonomi, tapi juga spiritual dan intelektual, agar mereka mampu menjawab tantangan zaman.

Kesimpulan

Kesimpulannya, kesepian digital adalah masalah nyata yang tak boleh diabaikan. Kita perlu kembali pada jati diri sebagai umat terbaik yang peduli, berinteraksi tulus, dan memiliki visi bersama untuk kebangkitan. Media sosial bisa menjadi alat dakwah dan kontribusi, jika dimanfaatkan dalam kerangka yang benar, yakni kerangka Islam. Bukan sekadar alat hiburan yang menjebak kita dalam dunia semu, tetapi jembatan untuk membangun peradaban yang lebih kuat.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar