Subscribe Us

KEBRUTALAN ZIONIS DAN SOLUSI HAKIKI



Oleh dr. Sri Wahyuni
(Aktivis Dakwah)


Vivisualiterasi.com - Derita warga Gaza di Palestina belum berakhir karena pemerintahan Israel di bawah pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih gencar melancarkan serangan militer. Dengan dalih membasmi pejuang Hamas, Israel melakukan serangan membabi buta yang menyasar masyarakat sipil, tenaga medis, rumah sakit, dokter, bahkan jurnalis yang bertugas di lapangan.

Dikutip dari Beritasatu.com, serangan udara Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Gaza pada Senin (25 Agustus 2025) menewaskan sedikitnya 15 orang, termasuk empat jurnalis, menurut pejabat kesehatan Palestina. Salah satu korban adalah Hussam al-Masri, juru kamera sekaligus kontraktor Reuters, yang tewas dalam serangan pertama.

Para jurnalis tersebut bekerja untuk kantor berita internasional seperti Associated Press, Reuters, Al Jazeera, dan Middle East Eye, sebagaimana dikonfirmasi media-media tersebut. Empat petugas medis juga tewas dalam serangan ini, menurut kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut insiden itu sebagai “kecelakaan tragis,” seraya mengatakan otoritas militer Israel sedang “melakukan penyelidikan menyeluruh.” Kematian jurnalis-jurnalis ini menambah daftar panjang jumlah jurnalis yang tewas di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023, mencapai sekitar 200 orang. Badan terkemuka yang mengedepankan kebebasan pers, Committee to Protect Journalists (CPJ), mencatat konflik di Gaza sebagai yang paling mematikan bagi jurnalis (BBC News, 26 Agustus 2025).

Kebrutalan Zionis dan Peran Imperialisme dalam Penjajahan Palestina

Kekejaman yang terus dilakukan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina bukan sekadar konflik lokal, melainkan bagian dari proyek imperialisme global yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Serangan brutal terhadap rumah sakit, sekolah, dan jurnalis bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia, tetapi juga cerminan sistem penjajahan modern yang dilindungi oleh kekuatan besar dunia.

Imperialisme saat ini tidak lagi hadir dalam bentuk kolonialisme klasik, melainkan melalui dominasi ekonomi, militer, dan diplomasi. Negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, terus memberikan dukungan penuh kepada Israel—baik dalam bentuk bantuan militer, veto di PBB, maupun narasi media yang bias. Semua ini dilakukan demi menjaga kepentingan strategis mereka di Timur Tengah, wilayah yang kaya sumber daya dan penting secara geopolitik.

Palestina menjadi korban sistem yang menempatkan keuntungan dan kekuasaan di atas nilai kemanusiaan. Ketika dunia bungkam dan lembaga internasional gagal menegakkan keadilan, umat Islam harus menyadari bahwa solusi hakiki tidak akan datang dari sistem kapitalisme dan imperialisme. Dunia mengetahui hal tersebut tetapi tidak melakukan apa pun untuk memberikan solusi hakiki. Dua miliar umat Muslim belum sanggup bersatu untuk melawan kekejian Zionis yang didukung AS dan menuntut penguasa mereka menurunkan pasukan militer untuk menolong Gaza. Solusi hakiki belum menjadi kesadaran umum, bahkan belum menjadi opini mayoritas umat Muslim.

Islam: Solusi Hakiki Menjawab Kebrutalan Zionis

Para pemimpin Muslim memang disatukan dalam berbagai konferensi dan lembaga atau organisasi internasional, dari yang bersifat umum hingga berbau Islam, namun itu sering kali menjadi cara lain bagi negara-negara Barat untuk mengendalikan dan menjamin kepentingan mereka tetap terjaga.
Perlu ditegaskan bahwa Palestina bukan semata persoalan kemanusiaan, melainkan persoalan akidah dan hukum syar’i. Tanah Palestina adalah tanah kaum Muslim yang dirampok oleh Zionis Yahudi. Sejak awal berdirinya Israel pada 1948, penjajahan ini tidak pernah memiliki legitimasi syar’i maupun moral. Rasulullah telah menegaskan bahwa kaum Muslim ibarat satu tubuh: jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakannya.

Karenanya, pembebasan Palestina bukan pilihan, melainkan kewajiban. Jihad untuk membebaskan tanah kaum Muslim dari penjajahan adalah fardu ‘ain, dan hal itu tidak pernah gugur oleh waktu. Inilah solusi hakiki yang harus terus disuarakan dan diyakini mampu mengakhiri penjajahan.

Ini bukan sekadar seruan emosional, melainkan panggilan untuk membangun kesadaran politik dan spiritual. Palestina bukan hanya tanah yang dijajah, tetapi simbol perlawanan terhadap kezaliman global. Maka, sudah saatnya umat Islam berhenti berharap pada sistem yang menciptakan penjajahan. Solusi sejati hanya akan lahir dari kesatuan umat, kebangkitan ideologis, dan penerapan sistem Islam yang adil dan menyeluruh.

Sebagaimana diuraikan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri organisasi internasional Hizb ut-Tahrir, dalam kitab Mafahim Siyasi, sejak Perjanjian Westphalia yang ditandatangani negara-negara Kristen Eropa tahun 1648, disepakati dua hal yaitu persamaan internasional (tidak boleh ada negara yang lebih menonjol) dan perundingan damai. Perjanjian itu menjadikan perang dihapuskan dan hubungan antarnegara diganti dengan perundingan damai yang pada perkembangannya membagi kekayaan dunia terutama pada kekuasaan negara-negara Eropa yang kuat kala itu.

Namun, Perjanjian Westphalia dan berbagai perjanjian berikutnya telah menghancurkan Daulah Khilafah terakhir di wilayah Turki Utsmani, sehingga kaum Muslim kehilangan satu institusi yang dapat melindungi mereka dari berbagai bentuk penjajahan. Negara-negara Eropa yang kemudian membentuk Lembaga Bangsa-Bangsa (LBB), yang kelak menjadi PBB, bertujuan menjaga superioritas kekuasaan mereka di dunia dan kebebasan untuk mengeksploitasi kekayaan negeri-negeri Muslim.

Nasionalisme menjadi titik awal malapetaka Palestina, di mana terjadi migrasi besar-besaran bangsa Yahudi dari Eropa yang membuat wilayah Daulah Khilafah Utsmaniyah mudah terpecah belah menjadi banyak negeri. Oleh karena itu, sudah saatnya umat bersatu menuntut penguasa mereka agar mengirimkan pasukan militer untuk membebaskan Palestina, dan sudah saatnya kita semua terus menyuarakan solusi hakiki ini hingga menjadi kesadaran dan opini umum yang menggerakkan umat menuju kemenangan.

Solusi bagi Palestina bukan solusi dua negara (two-state solution). Solusi hakiki bagi Palestina adalah tegaknya Daulah Khilafah yang dipimpin seorang khalifah guna mengusir dan memerangi Zionis. Umat harus memahami bahwa hanya Khilafah yang dianggap sebagai solusi tunggal bagi Palestina menurut pandangan teks ini.

Untuk mewujudkan hal tersebut, langkah awal yang dapat dilakukan adalah terus melakukan edukasi secara masif tentang kewajiban umat membela Palestina. Dengan demikian, setidaknya hal tersebut bisa menjadi hujjah kita di hadapan Allah kelak ketika dimintai pertanggungjawaban terkait peristiwa yang terjadi di Palestina saat ini. Jika dahulu Palestina dibebaskan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khattab dan kemudian dibebaskan kembali oleh Salahuddin Al-Ayyubi, maka selanjutnya Palestina akan dibebaskan oleh generasi penerus peradaban Islam: pemuda tangguh yang taat syariat. Keberadaan dakwah dari kelompok yang mengemban ideologi Islam juga memiliki peran sentral dalam membangun kesadaran umat, mengajak, dan membina masyarakat untuk menegakkan negara Islam serta menerapkan syariatnya demi mewujudkan kesejahteraan dan keamanan bagi seluruh umat manusia.

Palestina tak mungkin bebas jika umat Islam terus meninggalkan syariat. Syariat Islam bukan hanya soal ibadah, tetapi juga politik, ekonomi, militer, dan diplomasi. Tanpa penerapan syariat secara menyeluruh, umat akan terus lemah, tercerai-berai, dan mudah dijajah.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.[Irw]

Posting Komentar

0 Komentar