Oleh: Raihun Anhar
(Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Pada tanggal 7 Oktober 2023 terjadi peristiwa besar yang mengubah wajah dunia dari Gaza, Palestina. Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnya melancarkan serangan besar dari Gaza ke Israel sebagai perlawanan atas penjajahan Zionis di negeri mereka. Peristiwa itu menewaskan lebih dari 1.200 orang di Israel dan menyebabkan ratusan orang disandera. Setelahnya, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Jalur Gaza yang membawa dampak kemanusiaan yang sangat besar bagi masyarakat sipil Palestina hingga kini.
Bagi kita yang menyaksikannya dari Indonesia, 7 Oktober tidak semestinya hanya menjadi tanggal dalam kalender atau berita yang kembali viral setiap tahun. Ia seharusnya menjadi momentum untuk bertanya: apa yang sudah kita lakukan sebagai seorang muslim ketika Baitul Maqdis dan rakyat Palestina terus menghadapi penderitaan?
Gaza telah menunjukkan kepada dunia bahwa persoalan Palestina belum selesai. Di tengah kehancuran, pengungsian, keterbatasan pangan, kesehatan, pendidikan, dan berbagai kebutuhan dasar, masyarakat Gaza masih berusaha mempertahankan kehidupan mereka dengan terus menjaga negeri tersebut. Laporan kemanusiaan PBB pada Oktober 2026 pun masih menggambarkan kondisi Gaza sebagai sangat berat, dengan kekurangan layanan dasar dan kebutuhan kemanusiaan yang besar.
Namun, perjuangan untuk Palestina tidak boleh dimaknai hanya sebagai keberanian menghadapi perang. Perjuangan juga berarti membangun manusia yang berilmu. Prof. Fattah El-Awwaisi mengingatkan muslim di Indonesia bahwa untuk membebaskan Baitul Maqdis dibutuhkan pembebasan terhadap pemikiran dari ketidakpahaman kita terhadap Baitul Maqdis dengan kalimat "liberation of mind before liberation of land".
Muslim Indonesia mungkin berada ribuan kilometer dari Gaza. Kita tidak berada di medan yang sama. Tetapi, kita memiliki sesuatu yang tidak boleh kita sia-siakan: ilmu, pendidikan, kemampuan berbicara, kemampuan menulis, teknologi, ekonomi, jaringan sosial, dan kesempatan untuk membangun kesadaran umat.
Maka, jika kita ingin membebaskan Baitul Maqdis, mulailah dengan membebaskan diri dari kebodohan dengan mempelajari sejarah Baitul Maqdis dan sejarah pembebasannya. Kemudian, teruslah membahasnya dalam forum-forum diskusi dan platform digital agar semua orang memahami dan mau berjuang bersama untuk pembebasan Baitul Maqdis.
Dan yang paling penting, didik generasi muslim agar memiliki iman, ilmu, keberanian, kepedulian, dan kemampuan untuk memberikan kontribusi nyata seperti masyarakat Gaza yang terus berjuang.
Allah berfirman:
ÙˆَÙ„َا تَÙ‡ِÙ†ُوا ÙˆَÙ„َا تَØْزَÙ†ُوا ÙˆَØ£َÙ†ْتُÙ…ُ الْØ£َعْÙ„َÙˆْÙ†َ Ø¥ِÙ†ْ ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ Ù…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ
"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh menyerah terhadap keadaan. Tetapi, keberanian harus berjalan bersama iman, ilmu, hikmah, dan tanggung jawab. Menurut Dr. Fika Komara bahwa keimanan tidak hanya untuk menjaga akhlak, tetapi mampu menjaga nyawa dan teritorial seperti yang ditunjukkan Gaza. Itulah keteladanan penduduk Gaza untuk muslim di dunia.
Karena itu, keteladanan dari Gaza yang patut kita teladani yakni keteguhan untuk melawan penjajah. Penjajahan yang terjadi di Gaza adalah kejahatan sistemik, di mana setiap nyawa yang dibunuh sudah diprediksi dengan sistem digital oleh Zionis yang diungkapkan dalam film dokumenter (Naza) yang dibuat oleh warga Israel.
Selain memahami Baitul Maqdis, kita membutuhkan kekuatan yang tersistem dalam negara. Tanpa sistem, kita akan terus-menerus terjajah. Seperti ungkapan terkenal bahwa "kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi". Islam adalah sebuah sistem (ideologi) yang mengatur segala hal, termasuk pembebasan sebuah negeri dari penjajahan. Sistem ini pernah diterapkan dalam kehidupan kaum muslim sejak hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah hingga runtuhnya Khilafah Usmani di Turki pada 3 Maret 1924. Dari keruntuhan itulah membuat Baitul Maqdis kembali dikuasai penjajah untuk ketiga kalinya. Pertama, pada masa Rasulullah saw. dikuasai Romawi dan berhasil dibebaskan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Kedua, pada masa Salahuddin Al-Ayyubi melawan pasukan Salib dari Eropa yang telah menjajah negeri itu. Setelah itu, penjajah ketiga adalah Zionis yang dipindahkan dari Eropa ke Baitul Maqdis melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917 hingga sekarang.
Oleh karena itu, sebagai muslim kita harus membebaskan Baitul Maqdis yang merupakan kiblat pertama kita dari penjajah Zionis. Caranya bagaimana? Ikuti petunjuk dari Rasulullah saw. Langkah-langkah perjuangan Rasulullah saw. bermula sejak diturunkannya Surah Al-Isra. Rasul memahamkan kepada para sahabat bahwa Baitul Maqdis harus dibebaskan karena kondisinya terjajah oleh Romawi dan memahami posisinya dalam Islam bagi muslim. Ini adalah kekuatan pembentukan kekuatan pemikiran dan akidah yang kukuh. Pada langkah pertama ini belum ada upaya pembebasan karena belum punya kekuatan militer alias belum punya negara. Kedua, ketika hijrah ke Madinah akhirnya punya kekuatan militer, Rasulullah saw. mulai menulis surat mengajak Kaisar Romawi untuk memeluk Islam, tetapi ajakan itu tidak diindahkan, maka Rasulullah sendiri memimpin Perang Tabuk. Setelah Rasulullah saw. wafat, Khalifah Abu Bakar melanjutkan ekspedisi militer ke Baitul Maqdis dan berlanjut hingga pada Khalifah Umar bin Khattab setelah menang dalam Perang Yarmuk tahun 637 M atau 16–17 Hijriah.
Setelah pembebasan ini, penduduk Baitul Maqdis hidup damai berdampingan antara beragam agama. Namun, penjajah menginginkan negeri ini sehingga berhasil direbut oleh pasukan Salib pada tahun 1099 M/492 H. Di sini hadir lagi perlawanan melawan penjajah oleh Nuruddin Zanki, seorang pemimpin Damaskus (Suriah sekarang), berlanjut hingga berhasil dibebaskan oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1187 M/583 H. Sekarang kita menyaksikan Zionis sebagai penjajah yang membunuh jutaan nyawa manusia sejak berdirinya Israel tahun 1948–2026. Namun, bedanya penjajahan ketiga ini kaum muslim tidak memiliki kepemimpinan Islam (khilafah), melainkan tercerai-berai oleh nasionalisme yang membuat Gaza tidak lagi berharap pada muslim. Itu terungkap dari lisan-lisan mereka, salah satu ungkapan Faiz Abu Syamalah (warga Gaza), "Kepada seluruh umat Islam. Kepada para ulama, Syekh Al-Azhar, kepada para ulama di Kota Mekkah, dan semua ilmuwan yang menaiki mimbar sebagai pengkhotbah; kami tidak berharap kalian mengirimkan senjata. Kami juga tidak berharap kalian mengirimkan tentara untuk menolong kami. Tidak juga berharap agar gerbang bantuan dibuka. Yang kami harapkan hanya tolong ajari kami, cara Rasulullah saw. mengikat batu di perut beliau untuk menahan lapar. Apakah jenis batunya? Apakah batu keras atau batu yang kami dapat dari reruntuhan rumah kami? Apakah batu besar, sedang, atau kecil? Di mana kami harus mengikat batu itu? Harus berapa lama kami mengikatnya di perut? Tolong beri tahu kami, ulama muslimin."
Inilah alasannya kita butuh sistem Islam agar bisa segera mengakhiri penjajah di Baitul Maqdis dan membantu saudara kita di Gaza yang tetap teguh berjuang hingga kini. Muslim tanpa negara kita jadi korban penjajah, baik penjajah pemikiran maupun penjajah fisik. Mewujudkan negara itu bukan hanya kebutuhan, melainkan juga kewajiban. Mayoritas ulama dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) serta ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa hukum mendirikan khilafah/imamah adalah wajib dan meletakkannya sebagai mahkota kewajiban (tajul furudh) yang dengannya semua kewajiban lainnya dapat ditegakkan. Para sahabat Nabi telah memberikan contoh akan pentingnya mengangkat seorang khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. dengan menunda pemakaman hingga Abu Bakar dibaiat sebagai khalifah.
Dengan demikian, perjuangan pembebasan Baitul Maqdis tidak hanya tugas Gaza, melainkan kewajiban seluruh muslim di dunia. Ikutilah langkah-langkah pembebasan Rasulullah saw. dengan mewujudkan kekuatan muslim dalam sebuah negara yang merupakan kewajiban. Negara dan agama tidak boleh dipisah (sekuler), "Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar (fondasi), sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang." Wallahu a'lam bish-shawab.[]


0 Komentar