#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Peringatan 17 Agustus sebentar lagi datang. Bendera Merah Putih akan dikibarkan di setiap sudut negeri. Pidato "Merdeka!" akan menggema paling lantang.
Tetapi di saat yang sama, di perut bumi Papua ada emas yang dikapalkan, di Kalimantan ada batu bara yang ditambang, di Sulawesi ada nikel yang dikirim ke luar negeri. Ironisnya, mayoritas pengelolanya bukan anak bangsa. Kontrak, izin, bahkan teknologi tambangnya masih dikuasai korporasi asing.
Inilah wajah kemerdekaan yang setengah tiang. Secara fisik mungkin kita sudah bebas dari penjajah. Namun secara ekonomi, kita masih terjebak kolonialisme gaya baru.
Di dalam negeri kita justru sibuk ribut soal siapa yang mendapat proyek, siapa yang mendapat konsesi (izin) pengelolaan sumber daya alam. Sayangnya, fakta ini belum sepenuhnya mampu meningkatkan pemikiran yang dapat menyentuh solusi sejak dari akar. Seolah-olah kita puas-puas saja hanya menjadi "penonton" di negeri sendiri yang kaya raya.
Selama sumber daya alam vital masih dikuasai asing, selama kebijakan ekonomi kita masih diatur oleh pasar dan utang, maka kemerdekaan kita baru sebatas seremonial.
Kemerdekaan sejati adalah ketika negara berdaulat penuh mengelola kekayaannya untuk rakyat. Jika tidak, maka tiap 17 Agustus kita hanya akan mengulang pertanyaan yang sama: Kita ini merdeka atau hanya berganti penjajah? [] Gien Rizuka


0 Komentar