Oleh: Nurul Fatma Hidayati
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Oktober 2023, mata dunia diperlihatkan dengan jelas berbagai tindakan sadis yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Peristiwa ini diawali dengan aksi perlawanan Hamas terhadap serangan Israel yang telah berlangsung sejak lama. Sayangnya, operasi militer Israel di Palestina, terutama di Gaza, terus berlanjut hingga kini dan telah memakan korban sedikitnya 73.035 orang tewas, termasuk lebih dari 21.280 anak-anak. Laporan terbaru menyatakan bahwa pemerintah dan pasukan keamanan Israel secara sengaja melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan fisik dan mental, bahkan kematian, terhadap anak-anak di Palestina [bbc.com, 24/06/2026].

Tindakan tersebut disimpulkan sebagai bagian dari operasi militer Israel yang merupakan strategi yang disengaja untuk menghancurkan kehidupan dan masa depan rakyat Palestina di Gaza dengan menjadikan anak-anak sebagai target. Laporan ini disampaikan oleh Komisi Penyelidik PBB yang menyatakan adanya kesengajaan menargetkan anak-anak dalam operasi militer, dengan melakukan penyerangan menggunakan senjata presisi, seperti drone quadcopter, penembak jitu, bahkan senjata berdaya ledak tinggi yang diarahkan pada tempat aktivitas anak-anak, seperti sekolah, perumahan, rumah sakit bersalin, pediatrik, dan kamp pengungsian.

Selain itu, Israel juga membatasi akses kebutuhan pokok, seperti layanan kesehatan, dengan menghancurkan rumah sakit maupun posko kesehatan yang dibutuhkan anak-anak. Tindakan ini secara sistematis merusak peluang kelangsungan hidup mereka. Israel juga menggunakan kelaparan sebagai metode perang dengan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Kondisi ini meningkatkan kasus kekurangan gizi akut dan kronis di kalangan anak-anak Gaza sehingga menghilangkan syarat-syarat dasar bagi kelangsungan hidup.

Operasi militer yang dilakukan Israel akan terus berlanjut, bahkan meluas ke wilayah lainnya yang dianggap sebagai target awal untuk menciptakan Greater Israel (Israel Raya). Ambisi mereka semakin terlihat jelas dengan meluasnya serangan ke wilayah Iran dan Lebanon. Israel akan terus bersikap semena-mena dengan dukungan negara adidaya, yaitu Amerika Serikat (AS), sebagai pemasok utama senjata untuk tindakan penyerangan selama ini.

Di sisi lain, terdapat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang seharusnya berperan dalam menjaga perdamaian dunia dan diharapkan mengambil langkah tegas dengan memberikan sanksi terhadap tindakan Israel dan sekutunya. Namun, hingga kini PBB dinilai hanya mampu memberikan kecaman dan pernyataan penolakan yang sebenarnya tidak mampu menghentikan aksi brutal Israel kepada rakyat Palestina, terutama anak-anak. Demikian pula dengan lembaga internasional yang berfokus pada perlindungan anak-anak, yaitu UNICEF, yang sayangnya juga bersikap sama, hanya sebatas kecaman dan pemberian bantuan tanpa menjatuhkan sanksi berat terhadap Israel.

Selain itu, banyak negeri Islam meyakini bahwa umat Islam ibarat satu tubuh dan akan berusaha menghilangkan rasa sakit pada bagian tubuh lainnya. Namun, hal tersebut tidak berlaku jika melihat sikap mereka dalam menanggapi genosida yang berkepanjangan di Gaza. Mereka sebatas mengecam dan menolak aksi genosida tersebut, namun tidak berani melakukan perlawanan secara nyata berupa angkat senjata terhadap pihak Israel. Rasa takut muncul karena berbagai perjanjian dan kesepakatan yang telah dilakukan, terutama dengan AS, sehingga mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan secara tegas tindakan operasi militer tersebut. Kondisi ini dipandang sebagai dampak dari kehidupan dengan sistem kapitalisme yang memisahkan urusan agama dari kehidupan dan menguatnya nasionalisme. Sikap ini membuat para pemimpin hanya berfokus pada urusan negara sendiri dan takut ikut campur yang dapat menggoyahkan kehidupan negaranya, meskipun itu adalah urusan umat Islam.

Sikap ini sangat bertolak belakang dengan kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para khalifah yang bersikap tegas terhadap tindakan kekerasan maupun pemusnahan massal kaum muslim yang dilakukan oleh kaum kafir. Menurut Islam, seorang pemimpin akan mengedepankan tindakan damai sebagai langkah awal yang dilanjutkan dengan peperangan jika menerima penolakan. Peperangan yang dilakukan juga harus sesuai dengan aturan syariat, di antaranya dilaksanakan di tanah lapang, tidak menyakiti perempuan dan anak-anak, tidak menghancurkan bangunan dan fasilitas umum, bahkan dilarang melakukan penghancuran terhadap tanaman. Hal ini sangat berbeda jauh dengan tindakan Israel yang secara sengaja menargetkan anak-anak dalam operasi militer mereka.

Selain itu, negara yang dipimpin berdasarkan ajaran Islam bukanlah negara-negara yang terpisah oleh batas-batas teritorial seperti saat ini, melainkan negara kesatuan yang berada di bawah naungan ideologi Islam yang menerapkan syariat Islam secara utuh. Pemimpin dalam sistem tersebut berperan sebagai ra’in dan junnah, yaitu pengurus dan pelindung umat yang akan menjamin kedamaian hidup di dalam negaranya. Jika terdapat penyerangan di satu wilayah umat muslim, maka akan dengan cepat dilakukan tindakan tegas berupa perlawanan dengan pasukan yang memiliki semangat jihad fi sabilillah.

Dari sisi politik, Islam juga mengatur agar tidak melakukan perjanjian dan kesepakatan dengan negara yang secara nyata memusuhi Islam, seperti AS. AS dinilai telah menjadi dalang, bahkan melakukan penyerangan dan menciptakan konflik di sejumlah negeri Islam, seperti Afghanistan, Iran, dan Palestina, yang menjadikannya sebagai darul harb (negara dalam status perang). Hal ini karena akan menimbulkan ketergantungan kepada negara tersebut sehingga umat Islam kehilangan kemandirian dan tidak berdaya untuk mempertahankan keberadaan Daulah Islam, seperti yang tampak jelas pada pemimpin negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim saat ini.

Oleh karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan Islam sebagai pengatur kehidupan secara menyeluruh sehingga dapat terwujud peradaban Islam yang mampu menjamin kesejahteraan dan kedamaian bagi umat. Di sinilah peran setiap umat muslim, yaitu menjadikan tujuan tersebut sebagai visi hidup dalam upaya mengembalikan kepemimpinan Islam seperti pada masa Rasulullah Saw. Semangat itu didasarkan pada hadis yang menjanjikan akan bangkit kembali kepemimpinan di bawah naungan Daulah Islam sebagaimana kepemimpinan ala Nabi Saw.[]