Oleh: Maimunah
(Kontributor Visualiterasi Media)

Vivisualiterasi.com-Menteri Pekerjaan Umum (PU) RI, Dody Hanggodo, angkat bicara soal jalan dan Jembatan Enang-Enang di Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Aceh yang rusak akibat bencana, kemudian diperbaiki warga secara swadaya. Dalam hal ini, ia mengapresiasi langkah warga yang melakukan patungan untuk memperbaiki infrastruktur tersebut.

Berbagai respons positif bermunculan terkait fenomena pembangunan swadaya jalan oleh warga di beberapa daerah, termasuk Aceh. Terbersit pula pertanyaan tentang penyebab yang mendasari gerak cepat warga dalam menangani kerusakan infrastruktur. Mungkinkah sikap lamban pemerintah dalam merespons laporan dari masyarakat juga menjadi alasan munculnya fenomena tersebut?

Ironi Negara dengan Sumber Daya Alam Melimpah

Rusaknya infrastruktur di beberapa daerah telah menumbuhkan kepedulian serius untuk segera menangani permasalahan. Namun sayang, bukan pemerintah setempat yang melangkah, langkah tersebut justru hasil “patungan” masyarakat.

Masyarakat mungkin telah jengah membayangkan proses panjang yang rumit dan berbelit hanya sekadar untuk pengajuan perbaikan akses jalan bagi warga. Padahal kerusakan jalan semakin parah dan pada saat yang sama mobilitas warga yang dihimpit kondisi serba sulit harus tetap berjalan. Boleh jadi, inilah salah satu alasan yang mendasari gerak swadaya warga untuk memperbaiki jalan secara mandiri agar dapat bertahan, alih-alih menghadapi buruknya birokrasi.

Sementara itu, beberapa faktor yang menjadi penyebab utama kerusakan jalan di berbagai wilayah justru terkesan luput dari perhatian. Lalu lalang kendaraan besar yang secara rutin melintas seringkali overloading ekstrem, sehingga berpotensi merusak kekuatan konstruksi tanah yang berujung timbulnya retak pada permukaan jalan. Selain itu, sistem drainase yang buruk menyebabkan tergenangnya air terlalu lama pada saat hujan sehingga merusak lapisan perekat aspal. Sayangnya, proses perbaikan seringkali hanya dilakukan dengan metode asal tambal sulam. Kondisi ini justru menyebabkan permukaan jalan bergelombang dan rentan muncul retakan baru yang membahayakan pengguna jalan.

Inilah ironi hidup dalam iklim ekonomi kapitalistik. Sebanyak apa pun kekayaan negara, dengan pengelolaan yang semrawut dan keliru akan menguap begitu saja. Kekayaan alam yang dalam Islam terkategori sebagai hak umum atau milik rakyat justru menghilang di balik kantong-kantong kerakusan penguasa korup atau investor tamak. Jaminan keselamatan dan kenyamanan rakyat tergantung pada sisa keuntungan yang diperoleh negara. Akhirnya, penyediaan infrastruktur menjadi sekadar proyek perjanjian bisnis bagi kelancaran korporasi tertentu, baik perusahaan pengguna jasa kendaraan berat maupun individu pemilik kendaraan pengangkut produk hasil atau bahan industri.

Infrastruktur sejatinya termasuk salah satu fasilitas umum yang wajib dipenuhi penguasa. Sebab, jalan yang layak turut menyumbang lancarnya mobilitas masyarakat. Sikap “ramah” pemerintah terhadap pihak yang melanggar ketentuan batas berat muatan turut menjadi penyebab kerusakan jalan. Karenanya, yang layak dilakukan seharusnya bukan sekadar apresiasi, sebab hal tersebut dapat dikatakan sebagai kegagalan negara dalam menjalankan kewajiban. Adanya perbaikan mandiri oleh warga layak dijadikan cambuk agar segera ada upaya pembenahan dan koreksi. Pembenahan untuk keluar dari sistem kapitalisme yang menjadi sumber karut-marut kehidupan masyarakat, serta koreksi terhadap ketakwaan individu agar amanah dalam melaksanakan jabatan sesuai aturan Islam.

Berkaca pada Sejarah yang Tepat

Sebagai negara berpenduduk Islam terbanyak dan pemegang kekuasaan mayoritas adalah muslim, sungguh memalukan apabila masyarakat sampai turun tangan dalam rangka memenuhi kebutuhan yang seharusnya dijamin oleh pemerintah. Terlebih, banyak di antara pejabat yang mengklaim dirinya wakil rakyat, pada dasarnya adalah orang-orang yang memahami ketentuan pemegang amanah dalam Islam.

Andai mereka mau melayangkan pandangan sejenak tentang kisah masyhur keteladanan pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab, sosok Khalifah yang tidak akan membiarkan kaki seekor kuda terperosok di jalan berlubang. Atau sejarah gemilang tentang totalitas pelaksanaan amanah jabatan yang ditunjukkan pada masa akhir Kesultanan Utsmaniyah oleh Sultan Abdul Hamid II dengan membangun Jalur Kereta Api Hijaz yang membentang dari Damaskus hingga Madinah. Sebuah proyek besar yang berjalan dalam sistem Islam yang sempurna.

Islam sejatinya adalah ideologi yang maju dan aplikatif. Ideologi atau mabda Islam ini sangat berbeda dengan dua ideologi lain yang ada di dunia. Setiap aktivitas dalam sistem Islam senantiasa terkoneksi dengan Sang Pencipta dalam koridor akidah. Seorang mukmin harus mampu menghadirkan kesadaran akan hubungannya dengan Allah Swt. kapan pun dan di mana pun. Inilah yang menjadikan ciri khusus kepemimpinan dalam sistem Islam. Aspek politik dalam negeri di negara Islam terpusat pada penerapan hukum syara’ secara menyeluruh untuk memastikan seluruh hak rakyat terurus dan terpenuhi dengan baik.

Sejarah Islam dapat menjadi cermin yang baik agar kaum muslim kembali menjadi umat yang mulia. Dengan aturan Islam kita dapat melihat kejayaan kaum muslim selama 13 abad. Mereka bukan berasal dari negeri dengan limpahan sumber daya alam atau negeri yang dikelilingi kekayaan hasil laut. Namun, dengan sistem Islam mereka mampu menjadi bangsa yang maju untuk memimpin peradaban dunia.

Allah Swt. berfirman:
“... Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu...” (QS. Al-Maidah : 5)

Jalan Kembali

Hanya dengan menggenggam Islam, kemuliaan dan keberkahan yang sama akan dapat diraih. Semakin jauh bangsa ini meninggalkan aturan Islam, hanya akan menempatkan bangsa sebagai sapi perah asing yang mengemis utang luar negeri.

Para pemegang kekuasaan tanpa rasa malu terseret dalam pusaran kasus mega korupsi yang tak kunjung henti. Semua terjadi ketika aturan Islam dikesampingkan dalam urusan negara. Kemuliaan Islam hanya dijadikan nasihat spiritual dalam ruang tersendiri. Karenanya, tidak ada jalan yang lebih tepat untuk memulihkan kerusakan yang terjadi selain kembali kepada aturan Islam secara menyeluruh dan sistematis.

Sistem Islam mewajibkan pemeluknya untuk senantiasa belajar, memahami, dan mengkaji secara mendalam setiap permasalahan. Memastikan ilmu yang diperoleh menancap pada diri pemiliknya hingga melahirkan pengaruh untuk menjadi lebih unggul. Menjadi bangsa yang maju, kuat secara akidah, dihiasi ketinggian berpikir Islami, serta canggih, dan terus berusaha menjadi pelopor, bukan pengekor peradaban asing.

Allahu a‘lam bis-sawab.