Oleh Hyrnanda Sila  
(Aktivis Dakwah)


Vivisualiterasi.com-
Palestina merupakan negara yang masih terjajah hingga kini. Kaum Muslim Dahulu terus berupaya memperjuangkan dan menjaga tanah tersebut. Namun, sejak 15 Mei 1948, tanah Palestina dikuasai entitas Yahudi melalui perebutan paksa dengan dukungan Inggris. Peristiwa ini dikenal dengan tragedi Nakba. Hingga saat ini, umat Islam di sana masih terus berjuang mengusir penjajahan di tanah mereka.

Peringatan Nakba

Peringatan tragedi Nakba dilakukan untuk mengingat kembali tanah Palestina yang dijajah dan dikuasai Israel, dengan pengusiran warga Palestina secara massal, 750.000 hingga 800.000 orang, dari tanah air mereka akibat terbentuknya negara Israel. Tragedi ini bukan sekedar sejarah masa lalu, melainkan siklus kekerasan dan perampasan hak yang masih terus membayangi Palestina hingga hari ini, terutama di Gaza.

Dalam sebuah pernyataan yang menandai peringatan 78 tahun Nakba Palestina, Sektor Liga Arab untuk Palestina dan Wilayah Arab yang Diduduki menekankan perlunya mengakhiri ketidakadilan historis terhadap rakyat Palestina dan melanjutkan upaya internasional untuk mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah yang diduduki sejak 1967. Pernyataan itu juga menekankan perluasan organisasi, pengusiran paksaan, serangan oleh para pemukim, serta kebijakan yang bertujuan untuk situs-situs suci Islam dan Kristen (Antara News, 15/5/2026).

Para menteri luar negeri negara-negara anggota BRICS juga mendesak gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Jalur Gaza, serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Palestina. Mereka juga menjangkau seluruh sandera dan menyediakan akses berkelanjutan serta tanpa hambatan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Demikian pernyataan bersama yang dikeluarkan usai pertemuan setingkat menteri luar negeri di New Delhi, India, Jumat (Antara News, 15/5/2026).

Keadaan ini menuai kecaman dunia dan membiarkannya bagi Palestina. Namun, sebanyak apa pun kecaman dari dunia seperti yang dilakukan Liga Arab dan BRICS, kecaman tersebut seolah tidak memberikan efek jera pada Zionis Israel yang jelas-jelas ingin menghabisi Palestina. Salah satu solusi yang paling dikemukakan adalah pembentukan Dewan Perdamaian atau _Board of Peace_ (BoP) yang anggotanya terdiri atas 28 negara, termasuk negeri-negeri muslim seperti Indonesia, Arab Saudi, Turki, Qatar, Mesir, UEA, dan lainnya. Semua itu dilakukan untuk perdamaian, tetapi penggagas dewan ini adalah pendukung Israel. Bahkan Israel juga ikut serta menjadi salah satu anggotanya, sedangkan Palestina tidak ikut serta. Inilah yang akhirnya menjadi polemik dan solusi yang tak teratasi.

Sistem yang Salah

Keberlanjutan penjajahan di tanah Palestina pada akhirnya menunjukkan potret kegagalan sistem yang diemban hari ini, yaitu kapitalisme sekularisme, dalam menciptakan kerahmatan di dunia. Hal ini sekaligus menampilkan kebusukan konsep negara bangsa (nation state) yang membuat umat Islam kehilangan kekuasaan. Meskipun dunia mengecam tindakan Israel yang menjajah Palestina, jaminan Palestina tidak bisa diharapkan dari solusi dua negara atau dari negara-negara adidaya, lembaga-lembaga internasional, maupun regional. Semuanya hanya ada untuk mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam. Hingga hari ini, dunia hanya bisa mengecam tanpa mewujudkan solusi pasti atas perlakuan terhadap Zionis Yahudi.

Lembaga internasional yang diharapkan menyelesaikan masalah seakan mandul, seperti ada dan tiada. Konsep nasionalisme menjadikan umat Islam tak berdaya dan hanya sekedar anggota di Barat. Hingga saat ini, Palestina berjuang sendiri mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin Islam dunia. Sementara itu, Amerika dan Israel justru bebas melakukan semaunya.

Peristiwa Nakba menjadi bukti nyata bahwa solusi yang ditawarkan Barat tidak dapat dipercaya. Alih-alih mengatasnamakan perdamaian, antipenjajahan, HAM, dan lainnya, hal itu justru hanya narasi untuk melanggengkan perbuatan mereka. Sementara itu, Palestina dibiarkan menderita dalam jangka waktu panjang akibat kebijakan dan penerapan sistem yang salah.

Masalah ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang akar permasalahannya tidak terselesaikan dengan tuntas. Menggunakan sistem sekularisme kapitalisme justru melanggengkan polemik ini. Jika penggagas sistem ini saja sudah salah, bagaimana dengan hasil akhir yang didapat? Tentu saja masalah ini belum selesai.

Sikap Umat Muslim

Kita telah melihat bahwa sampai hari ini Palestina belum juga merdeka. Solusi yang ditawarkan dunia juga sudah dilakukan, namun problematika ini masih terus berlanjut dan belum terselesaikan. Oleh karena itu, permohonan Palestina harus menjadi agenda yang mendesak untuk diselesaikan. Solusinya bukan dengan mengambil sistem yang salah hari ini, yakni kapitalisme sekularisme, melainkan dengan mengambil dan menegakkan sistem kepemimpinan Islam.

Islam memiliki kumpulan aturan yang mampu menyelesaikan segala problematika umat, terutama masalah Palestina hari ini. Dahulu, umat Islam di bawah kepemimpinan Islam sangat dijaga dan dilindungi. Seperti yang dilakukan Sultan Abdul Hamid II yang menolak tawaran Zionis Theodor Herzl yang meminta wilayah di tanah Palestina untuk Yahudi dan menegaskan bahwa tanah tersebut adalah milik umat muslim. Ia tidak akan pernah melepaskan sejengkal pun tanah di Palestina. Ia juga mengatakan, “Lebih baik tubuh saya tertusuk daripada melihat Palestina terpisah dari negeri Islam.”

Sikap kita terhadap Palestina tidak cukup hanya untuk kemanusiaan saja, melainkan karena mereka adalah saudara seakidah. Bila umat muslim di sana merasakan sakit, maka kita sebagai umat muslim lainnya juga merasakan sakitnya.

Seperti sabda Rasulullah saw: “Perumamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas, ikut merasakan sakitnya.” (HR Muslim No. 4685)

Umat ​​Islam harus menyadari bahwa hari ini mereka lemah akibat tidak adanya kepemimpinan Islam yang bisa melindunginya. Maka, langkah yang harus dilakukan adalah kembali pada sistem Islam, yaitu dengan persatuan umat. Wajib bagi kita umat Islam membantu mereka sebagai tanda bukti iman dan cinta kita sebagai saudara seiman. Jika Palestina diuji dengan penjajahan, maka kami diuji dengan keimanan kami untuk berjuang memerdekakan Palestina. Namun, upaya itu tidak akan terwujud bila dilakukan sendirian, melainkan dengan menyatukan negeri-negeri kaum muslim dalam menumpas kejahatan di tanah Palestina dan memerdekakannya.

Seperti firman Allah Swt. dalam QS Ali 'Imran : 103, “Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, janganlah bercerai-berai.”

Hanya dengan kepemimpinan Islam diharapkan bisa mengusir penjajahan dan mengalahkan kekuatan pendukungnya. Kepemimpinan Islam akan menyatukan dan memobilisasi kekuatan umat Islam, sehingga kewibawaan umat ini kembali. Umat ​​Islam siap merebut kepemimpinan dunia dan menebar rahmat ke seluruh alam. Peringatan Nakba menjadi momentum bagaimana seharusnya umat Islam berpikir dan bertindak. Wallahu a'lam bishawab.