Oleh Nadia Salsabyla
(Kontributor Vivisualiterasi)


Vivisualiterasi.com - Sejak awal kemunculan Dewan Perdamaian (Board of Peace), belum mampu mewujudkan perdamaian yang selama ini menjadi mimpi warga Gaza. Sebaliknya, kebijakan yang dilahirkan justru mengorbankan banyak nyawa dan seolah memuluskan penjajah mengambil alih tanah Gaza.

Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) disebut mendesak Hamas agar segera menyelesaikan rancangan kesepakatan demiliterisasi Jalur Gaza paling lambat akhir pekan ini, kata laporan media. Amerika Serikat menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza. -Antaranews (7/4/26)-

Serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Senin (6/4) waktu setempat, saat gencatan senjata masih diberlakukan. Sedikitnya 10 orang tewas akibat gempuran terbaru Israel yang menghantam area di dekat sebuah sekolah di Jalur Gaza, yang kini menampung para pengungsi Palestina. -detik.com (7/4/26)-

Hamas tidak menyetujui rencana yang diajukan oleh Mladenov. Juru bicara sayap militer Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaida, menegaskan, gerakan perlawanan tidak akan menerima usulan pelucutan senjata, dan apa yang tidak bisa direbut dengan kekuatan tidak akan bisa diperoleh melalui meja perundingan. -inilah.com (12/4/26)-

Jebakan Kapitalisme Global

Mulanya, Dewan Perdamaian atau BoP ini diharapkan bisa membantu mengawasi proses rencana perdamaian di Gaza. Hanya saja banyak hal-hal yang janggal dan bahkan menyalahi perjanjian damai yang sudah mereka buat. Adanya pengabaian hak bangsa Palestina untuk terlibat dalam dewan perdamaian, serangan - serangan brutal Israel terhadap warga sipil, hingga perintah pelucutan senjata bagi kelompok Hamas. 

Berharap BoP bisa membawa perdamaian di Gaza adalah mimpi di siang bolong. Lembaga bentukan Amerika, PBB yang berdiri sejak lama dan diikuti oleh 193 anggota negara saja tidak mampu mengentaskan krisis kemanusiaan di Palestina. Tentu BoP juga tidak jauh beda dari pendahulunya, apalagi ketika pemimpinnya sama.

Lebih lanjut, pelucutan senjata yang diusulkan BoP ini semakin menunjukkan niat busuk penjajah untuk memonopoli tanah Palestina. Hal ini dilakukan demi memadamkan perjuangan perlawanan rakyat Gaza dengan jihad. Sehingga umat pun akan mengubah cara pandang, bahwa perlawanan sebagai ancaman dan penyerahan senjata sebagai perdamaian.

Hari ini perdamaian sulit didapatkan karena semua itu tergantung pada ‘siapa yang paling berkuasa’. Sedangkan kekuasaan hari ini ada di bawah naungan Kapitalisme yang prioritas utamanya adalah manfaat bagi individu ataupun kelompok. Bahkan jika kemanfaatan itu harus diraih dengan cara yang keji, maka mereka akan tetap melakukannya sambil mencari dali yang tidak masuk akal.

Gaza Butuh Khilafah

Berulang kali Amerika dan Israel menawarkan gencatan senjata. Maka berulang kali pula mereka melanggarnya, dengan darah dan nyawa kaum muslimin. Ini membuktikan bahwa diplomasi bukanlah solusi. Karena mereka akan senantiasa merancang makar untuk islam dan kaum muslimin.

Dalam pandangan Islam, mempertahankan diri dari serangan musuh yang secara nyata menduduki negeri kaum muslimin merupan fardhu ain. Kewajiban individu yang tidak gugur kecuali dengan kematian atau ketidak mampuan total. Oleh karena itu jihad defensif menjadi fardu ain bagi muslim di wilayah tersebut, kemudian wilayah - wilayah yang berdekatan, hingga seluruh umat muslim. Ini merupakan hukum Allah yang tidak bisa ditekan oleh siapapun, termasuk tekanan negara adidaya sekalipun.

Allah ta’ala berfirman dala alquran surat An-Nisa ayat 144 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”.

Faktanya di saat kaum muslim Palestina masih berjuang dan belum berhasil mengusir zionis dari tanah mereka, penguasa dan tentara muslim di sekitarnya tidak memberikan bantuan. Semua ini menunjukkan penghianatan terhadap sesama muslim dan sekat nasionalisme yang telah memcah belah mereka.

Tidak dipungkiri, bahwa penyebab kemalangan kaum muslimin di seluruh dunia adalah tidak adanya daulah islamiyah, yang menyatukan mereka di bawah satu kepemimpinan, satu bendera dan satu sistem hukum. Selama lebih dari 100 tahun sejak runtuhnya khilafah Utsmaniyah pada 1924, kaum muslimin adalah 2 miliyar individu tanpa institusi pelindung. Dan Gaza adalah korban yang paling nyata dari kekosongan kepemimpinan ini.

Jika hari ini ada khilafah yang memerintah atas nama islam, ia wajib secara syar’i menggerakkan seluruh tentara kaum muslimin untuk membebaskan Gaza. Dan tidak ada satu pun kekuatan di muka bumi yang mampu membendung tentara gabungan lebih dari 50 negeri kaum muslimin yang bergerak atas nama jihad fardu ‘ain.

Khilafah adalah junnah atau pelindung bagi kaum muslimin. Oleh karena itu jihad harus dilakukan terorganisir oleh negara Khilafah. Sebab jihad tanpa negara akan selalu kalah dalam jangka panjang. Bukan karena kurangnya keberanian atau keimanan para mujahid. Melainkan karena ketimpangan struktural yang tidak bisa diatasi hanya dengan heroisme individual. Perlawanan bersenjata dan perjuangan mendirikan khilafah bukanlah dua pilihan yang saling bersaing. Melainkan dua komponen yang saling melengkapi dalam satu strategi besar pembebasan Islam.

Umat harus memahami pentingnya upaya berkelanjutan untuk memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan islam di bawah naungan Khilafah. Serta turut ambil bagian dalam perjuangan tersebut melalui metode dakwah yang dicontohkan Rasulullah ï·º di Madinah, yaitu dakwah ideologis yang diemban oleh jamaah Islam. Wallahu a’lam bisshowab.[PUT]