Subscribe Us

INDONESIA SUBUR TAPI KEDELAI IMPOR, SIAPA YANG DIUNTUNGKAN ?


 
Oleh Mai Hanum Asmu'i
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim mencatat adanya kenaikan impor komoditas kedelai. Hal ini menjadi ancaman bagi harga olahan kedelai seperti tahu dan tempe.  
"Impor kedelai pada Januari–Februari 2026 mengalami kenaikan volume sebesar 23,8 persen," kata Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, saat ditemui detikJatim (26/5/2026) di ruang kerjanya.

Siapa yang tak kenal tahu dan tempe, hasil olahan kedelai yang menjadi sumber protein alternatif di Indonesia? Saat kenaikan harga merambah hampir seluruh komoditas tanpa ditunjang kenaikan pendapatan, tahu dan tempe menjadi lauk andalan pengganti daging. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS, negara pengekspor kedelai terbesar selain Kanada, secara otomatis turut melambungkan harga kedelai di Indonesia yang masih bergantung pada produk impor. Terlebih dengan kenaikan harga plastik sebelumnya, hal ini memaksa produsen tahu dan tempe mengatur strategi penjualan dengan mengurangi ukuran produk.

Budaya Memelihara Kesalahan

Kenaikan harga bahan baku kedelai akibat pelemahan rupiah bukan hal baru. Justru para pemangku kebijakan cenderung menormalisasi permasalahan dan membiarkan masalah yang sama berulang menjadi rutinitas. Pada akhirnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak era reformasi dan ketergantungan pada kedelai impor berlarut tanpa solusi. Melalui Disperindag, pemerintah sebatas melakukan pemantauan untuk menghindari penimbunan, bukan berupaya mengatasi ketergantungan. Langkah tersebut jelas bukan solusi, mengingat pokok permasalahan bukan pada stok bahan, melainkan pada kemampuan negara menjamin ketersediaan bahan yang memadai secara mandiri serta berlepas dari pengaruh kekuatan global melalui mata uang asing.

Tentu menjadi pertanyaan besar: mengapa negeri sesubur Indonesia masih mengimpor produk pertanian? Mengapa pula nilai tukar rupiah seolah menjadi bulan-bulanan negara adidaya? Padahal hampir seluruh kebutuhan pokok dan roda perekonomian dunia dimiliki Indonesia. Namun, negeri ini abai saat kekayaan alamnya dikeruk dan dieksploitasi segelintir oligarki. Dampaknya, penanganan hanya berkutat pada upaya meredam dan mengalihkan isu, bukan pada pemecahan masalah mendasar. Kesan lepas tangan pemerintah makin tampak karena perbaikan kualitas pangan agar mampu bersaing di pasar internasional serta pemenuhan pasokan pangan dalam negeri belum pernah terwujud.

Pada dasarnya, peningkatan kualitas perlu dilakukan, baik untuk konsumsi dalam negeri dalam rangka pemeliharaan gizi generasi maupun untuk memenuhi kebutuhan perajin tahu dan tempe. Agar mereka tidak lagi lebih memilih produk impor daripada produk lokal meski dengan ketentuan harga yang fluktuatif. Sikap lamban pemerintah, jika dibiarkan lebih lama, akan menguatkan kesan bahwa permasalahan impor, peningkatan kualitas, serta kebutuhan pasokan bahan menjadi problem yang sengaja dipelihara oleh sistem demi keuntungan golongan. Hal tersebut lumrah dalam sistem ekonomi kapitalisme, sebuah sistem ekonomi Barat yang tidak pernah berpihak pada masyarakat bawah.

Sistem kapitalisme yang mandul dengan asas kemanfaatan bagi individu merupakan jalan pintas meraih kebahagiaan dan keuntungan setinggi-tingginya tanpa aturan. Selama menganut sistem ini, berbagai persoalan yang muncul tidak ubahnya sekadar ajang pembahasan sesaat dalam rapat resmi atau sebatas inspeksi mendadak kementerian, kemudian menjadi topik hangat sepekan lalu lenyap saat masyarakat diam pada kondisi atau memilih beradaptasi pada masalah. Sikap stagnan pemerintah menjadi angin segar bagi importir dan pihak asing untuk memberi tekanan politik melalui mekanisme pasar yang masih mengacu pada mata uang asing secara otomatis. Berbeda halnya jika negeri ini memiliki kemandirian pangan serta nilai tukar mata uang yang stabil sebagaimana dinar dan dirham pada masa kejayaan Daulah Islam.

Kestabilan Sistem Ekonomi Islam

Penggunaan dinar dan dirham dalam Daulah terbukti lebih stabil dan kokoh dengan nilai tukar setara di seluruh dunia. Dengan mata uang tersebut, Daulah mampu bersikap independen dalam menentukan arah politik tanpa intervensi asing. Pada masa kejayaannya, ekonomi Islam yang mengedepankan kemaslahatan umat memperhatikan secara rinci kebutuhan warga Daulah. Belanja negara berasal dari sumber tetap seperti fa'i, jizyah, kharaj, seperlima harta rikaz, zakat, serta sumber lain dari kepemilikan umum dan negara, kemudian disalurkan pada enam golongan.

Pengurusan atau ri'ayah terhadap warga Daulah mencakup seluruh bidang, termasuk sektor pertanian. Negara menjamin lapangan kerja terpenuhi, membolehkan warga mengelola lahan mati, serta mencukupi kebutuhan pertanian: benih, alat pertanian, edukasi, pendampingan peningkatan kualitas hasil pertanian, dan pemberian pupuk secara gratis hingga individu mampu mencukupi kebutuhan dengan hasil panen maksimal yang tidak kalah dengan produk impor.

Adapun impor produk hanya bersifat sementara, yaitu apabila kebutuhan barang tertentu yang bersifat darurat belum terpenuhi Daulah. Namun, impor segera dihentikan apabila produk dalam negeri sudah terpenuhi secara mandiri. Daulah secara tegas tidak melakukan perjanjian dagang dengan negara yang memusuhi dakwah Islam karena perjanjian dagang dengan musuh justru dapat memperkuat posisi musuh dan melemahkan kedudukan Daulah. Terlebih dengan bentuk perjanjian mengikat seperti perjanjian bilateral dalam sistem kapitalisme yang jelas merugikan.

Daulah tidak menempuh bahaya dengan menjalin hubungan dengan negara penjajah, termasuk AS. Namun, Daulah tetap membina hubungan ekonomi dan perdagangan sesuai ketentuan yang diputuskan Daulah dengan syarat hal tersebut tidak memperkuat posisinya dan tidak menjadi ancaman bagi keutuhan negara. Sebab tujuan utama hubungan luar negeri adalah kemaslahatan umat. Hal ini berbanding terbalik dengan kapitalisme yang memosisikan rakyat. Dalam kapitalisme, rakyat hanya berfungsi layaknya buruh yang bertugas menambah kekayaan segelintir elit. Sedangkan dalam Islam, rakyat mutlak posisinya sebagai objek ri'ayah atau pengurusan oleh Daulah secara merata selama ia menjadi warga Daulah dan taat terhadap aturan Islam yang diterapkan atas seluruh warga tanpa terkecuali.

Keagungan Islam sebagai Sumber Aturan

Islam turun dengan segala kesempurnaan sebagai agama ruhiyah sekaligus sistem kehidupan dengan aturan yang berasal dari Allah Swt. Sistem Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri dalam hal makanan, minuman, dan pakaian, serta mengatur hubungan manusia satu dengan lainnya dalam hal muamalah. Keagungan Islam sebagai sumber aturan baku terbukti telah mensejahterakan warga Daulah selama kurun waktu hampir 13 abad sebelum Islam diruntuhkan dengan cara kotor dan keji.

Pada masa kejayaan Islam, Daulah mengawasi dan mengatur penerapan ketiganya serta mengikatnya dalam bentuk aturan umum bagi seluruh warga Daulah tanpa terkecuali, baik muslim maupun nonmuslim. Daulah mengembalikan kepada individu nonmuslim dalam hal akidah dan ibadah, termasuk perkara nikah dan talak. Bagi muslim, wajib menaati seluruh syariat Allah tanpa terkecuali. Dalam hal makanan dan pakaian bagi nonmuslim sesuai batasan yang diperbolehkan syara'. Poin terpenting adalah seluruh warga Daulah diberikan hak setara terkait kebutuhan hidup, termasuk pendidikan dan kesehatan secara gratis dengan kualitas terbaik.

Instalasi Ulang Sistem Sempurna

Kesenjangan hidup yang terjadi saat ini bukan masalah yang akan selesai hanya dengan bantuan sementara atau sebatas pemantauan kasus. Kenaikan harga barang, termasuk kedelai, akan menjadi permasalahan ringan dengan penanganan sesuai Islam. Karena itu, perlu langkah besar keluar dari seluruh endapan masalah dengan membuang aturan rapuh buatan manusia lalu kembali pada aturan Allah dalam sistem kehidupan Islam yang sempurna. Mengajak manusia seluruhnya kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk bagi satu-satunya Pencipta dan Pengatur, yaitu Allah Swt.

Allah Swt. berfirman:  
"Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu secara rinci? Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui benar bahwa (Al-Qur'an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu." [QS. Al-An'am: 114]

Keberhasilan Islam dalam mengatur kehidupan bukanlah isapan jempol atau dongeng pengantar tidur. Dengan pengkajian mendalam akan banyak dijumpai bukti sejarah kejayaan Islam bertebaran di penjuru dunia. Sejarah boleh jadi berhasil mengubur kejayaan Islam dengan berbagai tipu daya, namun jejaknya tidak akan hilang hingga akhir zaman. Sebagaimana bukti peninggalan sistem irigasi canggih masa Kekhalifahan Abdurrahman III di Andalusia atau Spanyol saat ini. Hanya saja perlu strategi kolektif sebuah jamaah ideologis untuk mengembalikan pemikiran kaum muslim akan wajibnya penerapan Islam dalam kehidupan yang hanya akan terterapkan sempurna dalam bingkai Daulah Islam sebagai perisai penerapan. Maka, kewajiban bagi semua untuk menyeru manusia menegakkan perisai pelindung bagi umat serta pengemban penyebaran Islam ke penjuru dunia hingga Allah Swt. rida bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi yang senantiasa dituntut hanya untuk beribadah kepada-Nya.  
Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar